A-Blog!

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

06/08/20

Curhat Drama

Hai.
Tadinya aku sempat berpikir untuk mengabadikan hal-hal menyenangkan denganmu di sini. Namun belum sempat terwujud, kita tiba-tiba sudah sampai di bagian ending-nya. Hahaha, konyol memang. Manusia lagi-lagi hanya bisa berencana. Lalu tulisan ini pun terjadi, karena daripada tidak sama sekali :) Maka izinkan aku mengenangmu :)

Kamu datang dengan permisi. Ragu kuizinkan kamu masuk. Kamu pun barangkali tak begitu yakin untuk singgah, hanya saja kita mencoba, setidaknya kupikir begitu. Ironis memang, belakangan aku sadar, kamu yang membuatku yakin, tapi kamu sendiri tidak yakin. Yang terjadi berikutnya, adalah kemungkinan-kemungkinan buruk yang pernah ku tepis saat aku mulai yakin. Dan kini kamu pula lah yang membuktikan bahwa kemungkinan itu tetap ada, justru terjadi. Tidak ada yang bisa kita salahkan atas apa yang terjadi saat ini, mungkin aku terlalu bodoh, atau kamu terlalu pintar?

Sekian lama berlalu, masih ku ingat jelas rasanya. Bohong jika ku katakan aku tidak terkejut saat itu. Mungkin melebihi sekedar petir di siang bolong. Ini petir yang bersahut-sahutan. Petir pertama belum menemui ujungnya, kamu sambung dengan petir berikutnya. Seakan selama ini hanya disembunyikan awan, lalu disambarkan bersamaan. Petir-petir itu bak bersambut dengan hujan di pelupuk mata yang rasanya sulit berhenti. Kecewa, marah, sedih, semua seperti berlomba untuk naik ke kerongkongan namun tak kuasa untuk ku muntahkan padamu. Aku pun hanya bisa membiarkan semuanya menjadi tanggunganku lalu menelannya sendiri.

Lagu-lagu sedih yang selama ini hanya sekadar terdengar selewat, kini ku yakini kalau lagu itu diciptaan untukku. Penyesalan pasti ada, tapi untuk apa lagi selain menjadikannya pengingat di kemudian hari.

Jika suatu saat kamu iseng dan menemui tulisan ini, tenang saja, petirnya sudah tidak mengejutkanku dan hujannya sudah berhenti. Mungkin masih mendung, tapi aku optimis akan ada pelangi.

Boleh jadi harapan yang kita bangun telah pupus, tapi masih tersisa satu harapan.
Semoga dia mampu memahami jalan pikiranmu yang rumit itu lebih baik dari pada caraku memahamimu...

*tulisan ini lama terpendam dalam draft sejak 2018*

23/03/17

Ruang Hampa

Alhamdulillah, saya baru saja menyelesaikan pendidikan profesi, tapi peresmian alias wisuda beserta pengambilan sumpah-nya baru akan dilakukan bulan depan, Insha Allah. Artinya sekarang saya adalah manusia tanpa status, mahasiswa bukan, pekerja juga bukan, yah bisa dibilang jobless. Sambil menunggu berkas yang diperlukan untuk melamar pekerjaan, saya merasa hilang arah :)) Walaupun sebenarnya saya ada side-job dari Senin-Jumat, yang mana tidak memerlukan skill tertentu dan bukan disiplin ilmu saya, tetap saya tidak menganggap itu sebuah “job” yang berarti, karena hanya berlangsung paling lama 2 jam per-hari nya. Benar-benar hanya mengisi waktu luang. Jadi beginilah kegiatan tidak menentu saya setiap hari, tanpa rutinitas yang berarti.

Kecuali kamu punya skill lain, kamu seorang entrepreneur, atau kamu punya hobi yang mampu mengalihkan duniamu, pasti banyak mantan mahasiswa yang mengerti  kegalauan di masa peralihan seperti ini. Apalagi untuk anak rantau yang rasanya nanggung mau pulang kampung karena belum ada ijazah, wisuda, dll, jadi mau tidak mau harus tetap tinggal di rantauan walau sudah tidak ada keperluan. Seharusnya ini menyenangkan, karena kamu (akhirnya) bisa bebas melakukan apapun, bisa jalan-jalan meski bukan weekend, tanpa memikirkan tugas-tugas yang belum dikerjakan. Tapi orang-orang kan punya kesibukannya sendiri, mereka tidak bisa selalu ada buatmu dan menemanimu melakukan semua itu. Mau itu pacar sekalipun, dunianya bukan cuma kamu.  (Kayak punya aja, haha). Ups satu lagi, kamu lupa selain jobless, kamu juga moneyless tentunya.

Nah, kalau sudah begini, mulailah timbul perasaan rindu masa-masa ngampus, suasananya, pertemanan-nya, tapi tidak dengan kuliah dan tugas-tugasnya. Ketemu teman-teman setiap hari, makan siang bareng, kerja kelompok sampai sekedar nongki cantik. Apalagi kalau ingat gimana struggle masa-masa ujian. Jauh-jauh ke Jogja untuk ikut try out, 5 hari yang sangat berkesan walau tanpa jalan-jalan selain penginapan ketempat makan. Delapan orang dalam 2 kamar penginapan, dimana pembagian kamar itu hanya berlaku saat mau mandi dan tidur, sisanya selalu barengan. Belajar bareng berdelapan dalam satu kamar sempit, kaki nggak bisa lurus karena harus berbagi tempat. Ada yang di pojokan, depan wc, belakang pintu, sedikit beruntung yang di tempat tidur. Tapi saking cozy nya jadi rawan ketiduran. Belajar sampai larut malam, walaupun kebanyakan ngemil sama ngerumpinya. Atau scrolling Instagram dan melihat teman-teman seperjuangan yang lain sudah berwisata sedangkan kita piknik dengan soal try out. Dari yang seluruh anggota fokus serta on fire membahas soal, sampai satu per satu menarik diri dari diskusi dan memilih bermain handphone atau merem-merem dikit (lama-lama ketiduran). Dari diskusi yang runut dan berbobot, sampai ngelantur kemana-mana karena ngomong setengah sadar setengah tidur. Ketika semua anggota sudah mulai ngelantur, artinya sudah waktunya belajar bareng ini diakhiri lalu beranjak ke tempat istirahat masing-masing. Siap menyongsong hari esok, dengan agenda mencari lokasi ujian berbekal motor sewaan dan segenggam google maps. Agenda ini, tak jarang menimbulkan gejolak pertemanan. Karena pasti ada aja yang kececeran atau nyasar, sehingga memperlambat gerakan rombongan yang lain :))

Selain kebersamaan belajar try out di Jogja, kebersamaan belajar ujian sesungguhnya di sini juga tidak kalah rempong dan ngangeninnya. Belajar di H-seminggu ujian hampir setiap hari, kebanyakan di rumah saya sebagai basecamp, tapi tak jarang juga berkeliling seperti silaturahmi lebaran. Tipe belajarnya seperti biasa kebanyakan ngobrol-nya, tapi kalau sudah serius, fokeus banget. Selain itu juga banyak agenda selingan seperti makan nasi padang, nge-bakso, sampai nge-rujak :))

Sekarang semua itu cuma bisa jadi kenangan. Waktu dijalanin memang semua ini terasa berat dan membuat ingin berkata kasar, hahaha, tapi percayalah ternyata sekarang justru menjadi hal yang ngangenin.

Perasaan saya di masa transisi ini tuh kayak lagi di ruang hampa, melayang-layang tanpa gravitasi. Bukan hampa udara, tapi hampa...kosong, hahaha. Ruang hampa ini, yang bagi sebagian orang mungkin membosankan setengah mati hingga hampir frustasi, tapi saya justru menikmati. Memang pada dasarnya saya anak rumahan yang menyukai sepi tanpa merasa kesepian :)) Kalau kata Tulus “kita butuh ruang sendiri untuk bisa menghargai rasanya sepi”. Cie.

Cuma ilustrasi
 Di ruang hampa dengan waktu luang yang seluas-luasnya ini, seharusnya bisa diisi dengan kegiatan yang dulunya tidak bisa kita lakukan karena kesibukan. Kalau saya sih, kembali menenggelamkan diri dalam novel-novel. Dan mungkin akan mulai kembali mengisi blog ini. AHA! Mungkin nantinya saya bisa review novel yang sudah saya baca :))

27/11/15

Rasanya Gaji Pertama

Cita-cita terdekat saya adalah bekerja sebelum wisuda, jadi nggak sempet dapat gelar tambahan “pengangguran” hehehe...

cuma buat ilustrasi doang biar nggak sepi ... (sumber)
Demi menggapai cita-cita tersebut, sebulanan sebelum wisuda saya mulai masukin lamaran ke beberapa tempat. Modal nekat, ngelamar kerja tanpa ijazah dan transkrip nilai, cuma pake surat keterangan lulus doang. Seminggu nggak ada kabar, rada hampir pasrah, sampai akhirnya ada satu hari dimana saya dapat panggilan interview dari tiga tempat berbeda. Singkat cerita, saya hanya datang di dua interview, sementara satu lainnya tidak bisa saya penuhi karena kendala waktu yang bentrok. Gaya lu, tong.

Pengalaman Job Interview Pertama
Jadi, inilah pengalaman job interview pertama saya. Persiapan mulai dari penampilan rapi, cara menjawab pertanyaan klise, sampai persiapan bangsi waktu biar on time tiba di tempat aja dipikirin banget. Biar dikira orang yang disiplin. Eh, taunya kita yang on time, calon atasannya yang kagak. Waktu mau mulai interview, rasanya sedikit grogi, tapi setelah masuk ke obrolan, rasanya biasa aja sih. Yang bingung itu kalau ditanya masalah “mau digaji berapa”, saya sudah siapin jawaban diplomatis kayak “saya akan memberikan kemampuan terbaik saya dalam pekerjaan ini, dengan demikian saya yakin bahwa perusahan Ibu/Bapak dapat memberikan gaji yang pantas bagi saya” (dapet dari internet), sampai jawaban to the point kayak “satu milyar rupiah”. Untungnya, interviewer saya waktu itu langsung “nembak” aja nggak pake nanya-nanya, berhubung yang ditawarkan juga melebihi ekspektasi saya, yah apa mau dikata, saya mah gak bisa nolak jadinya =)) Setelah semuanya deal, ternyata saya langsung disuruh masuk keesokan harinya. Agak kaget juga, tapi ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus =))

Lalu, gimana dengan interview satunya lagi? Saya datang interview, bingung banget saat itu, antara sudah terlanjur deal dengan yang sebelumnya dan kayaknya tempat yang ini enak deh... Tapi, pada akhirnya saya menetapkan hati pada tempat pertama. Gaya lu lagi, tong.

Pengalaman Hari Pertama Kerja
Malam sebelumnya, saya hampir nggak bisa tidur =)) Mikirin ini itu, takut belum siap, takut lingkungan kerja nggak enak, takut nggak betah, tapi sambil rada-rada nggak nyangka, oemjihh rasanya baru aja lulus SD, taunya sekarang udah masuk fase kerja aja. *kemudian ngerasa tua*

Berhubung anak baru, pagi itu saya on time bangeeet, saya nunggu 10 menit lamanya sampai yang lain datang. Syukurlah, dapat rekan yang berasal dari kampus yang sama =)) Jurusan saya mah, kalau nggak dari kampus ini, ya kampus itu. Jadi kemana-mana juga bakalan nemu orang yang itu-itu aja. Bahkan, saya baru nyadar saat interview kalau penanggung jawab tempat kerja saya itu ya dosen saya =))

Hari pertama kerja, so far so good lah. Walaupun masih bingung dan gagap sana sini, lama-lama juga biasa, ini cuma masalah waktu. Semenjak kerja, saya yang sebenarnya tipikal orang yang males banget (dot com) basa-basi, mau nggak mau jadi orang yang basi banget supaya bisa diterima lingkungan -,- Usaha banget buat nahan-nahan main handphone biar bisa fokus kalau diajak ngobrol, padahal ada wifi kenceng banget L  Lucu aja sih, gara-gara maksa gini kadang jadi capek sendiri. Entahlah, kadang bukan kerjanya yang bikin capek, tapi basi-basiannya =))

Buanyakkk buangettt sih hikmah yang bisa diambil dari pengalaman ini, saya jadi lebih menghargai uang dan waktu, jadi tau kenyataan di lapangan yang beda banget dengan teori di kelas, jadi bisa mendalami ilmu, dan jadi lebih “sosial” =)) Karena kerjaannya ngelayanin orang, saya belajar jadi orang yang penuh perhatian dan ramah =)) Rasanya senang juga sih saat oranglain merasa terbantu dengan informasi yang kita kasih. Oiya, saya juga jadi lebih rajin “belajar”. Karena resiko banget kalau ngasih informasi yang salah, saya jadi sering searching dan nanya sana-sini. Memang awalnya sulit banget membiasakan diri dengan kegiatan baru ini, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan waktu makin nggak berasa berlalunya, tiba-tiba senin, ntar tiba-tiba minggu lagi.

Gara-gara kerja, urusan wisuda jadi keteteran. Saya daftar di last minute banget, di saat yang lain sudah terdaftar jadi wisudawan-wisudawati, lah saya masih kesana-kemari ngurus ini itu. Saking nggak enaknya sama atasan, bahkan di hari wisuda saya nggak izin buat nggak masuk kerja, sepulang wisuda sorenya saya langsung masuk kerja L Walhasil, sepanjang hari yang rempong itu, saya baru makan pas pulang kerja, sekitar jam 9 malem L L L

Dua hari setelah wisuda, genap sebulan saya bekerja. Artinya??? Gajiaaaann! =)))

Gaji Pertama

Rasanya megang gaji pertama.... Saya mendadak emosional bin sentimen, serius nih nggak pake lebay. Gatau dah napa, walau nggak seberapa tapi seneng aja gitu.

And my very first salary fresh from the envelope goes to........”JAZZ IN TOWN WITH KUNTO AJI” tickets =)) Pas banget itu acara, pas di hari gajian saya. Dan sama sekali nggak nyesel sih menghabiskan sekian rupiah untuk acara itu. Will write about that event at a special post a.s.a.p =))

Selain buat senang-senang, saya juga sok-sokan traktir keluarga buat makan bareng. Walaupun itu hanyalah segelintirrrrrrr dari apa yang telah mereka berikan kepada saya. Rasanya biar afdol aja nggak ada yang ngeganjal. Dan walaupuuuun ujung-ujungnya saya masih minta duit juga =’)

Sekarang sudah hampir dua bulan saya kerja, dan gaji pertama saya itu entah menjelma jadi apa nggak keliatan wujudnya. Artinya di bulan-bulan berikutnya masih harus belajar tentang manajemen keuangan =))


Well, itulah pengalaman serba pertama saya di dunia kerja. Pengalaman ini adalah bekal bagi saya, mengingat tahun depan saya berencana melanjutkan kuliah setahuuuun lagi. Yang tadinya ogah-ogahan, tapi kini udah mantep melihat kenyataan miris di lapangan. Saya ingin coba membantu mewujudkan layanan kesehatan yang ideal di Indonesia. Aaamiiiinn....

PS.
Kadang saya ngerasa hidup saya ini terlalu lurus, kuliah-skripsi-kerja. Whats next? Travelling maybe? =)

26/11/15

Akhirnya WISUDA!

Assalamu'alaikum blog sayaaahhh (x_x)

Bentar... Ambil kemoceng dulu.
Debu, laler, sarang spiderman, lumut, jamur sampe panu ngumpul jadi satu disini.

Wazzap yooow!

Nggak terasa (atau terasa banget??), kurang dari 35 hari lagi kita bakalan mengakhiri tahun penuh suka-duka 2015 ini dan menyongsong tahun yang baru. Gilelu ndrooo? 2016, are you ready??!

Apa kabar resolusi 2015? Udah sampe mana? =)) Do you even still remember about it? =)))))
Kalau punya resolusi ala kadarnya saya mah, disini

Alhamdulillah, garis besar sudah terpenuhi.
29 Oktober 2015 yang lalu, saya secara resmi sudah mendapatkan gelar akademik di belakang nama saya J

Rasanya wisuda ituuuu...... biasa aja.
BO’ONG DEHHH. Rasanya waryasakkk, campur aduk banget. Saya ceritain dari awal ya, pada mau baca nggak? Mau ya? Ya? Ya? Oke.

H-1 Wisuda diisi dengan kegiatan gladi bersih sampai sore dilanjutkan dengan bikin selempang “nyeleneh” ala kadarnya yang idenya baru tercetus sehari sebelumnya. Memang teman-teman saya luarbiasak. Dilanjutkan lagi dengan rapat bersama panitia acara perpisahan kampus yang baru dibentuk H-1. Memang kampus saya juga luarbiasak. Iya, soalnya dari awal emang terancam nggak pake acara perpisahan kampus karena adanya miskomunikasi dengan pihak BEM. Tapi toh bisa juga terlaksana,walau yang megang bukan anak BEM, semua cuma butuh NIAT. Anak HMJ mah, profesionalitasnya tak diragukan lagi. (Nyindir anak BEM, biarin). Ujug-ujug, kegiatan sampai magrib baru kelar. Ditambah lagi malamnya masih kesana kemari nyari sepatu wedges (x_x). Malam itu bisa tidur dengan nyenyak, yaiyalahhh udah teler banget coi.

Hari H Wisuda. Habis subuhan, sudah langsung ke salon buat dempul. Padahal acaranya jam 7. Amboi, ribet yee cewe. Sampai salon masih harus ngantri pula. Amboooi, ada yang lebih awal dari saya, jangan-jangan dia stay dari jam 1 malam. Kelar didempul pakai bedak 5 cm, langsung menuju venue wisuda, sambil panik sepanjang perjalanan karena hampir telat, mana macet bangeett.

Hasil dempul jam 5 pagi
Acara pun dimulai...
Wisudawan-wisudawati masuk ke ruangan wisuda diiringi lagu “Padamu Negri”, asem, merinding. Berasa nggak pantes. Cukup lama juga ternyata untuk sampai di acara wisuda (pemindahan kucir toga). Saya sempet dadah-dadahan sama orangtua yang lagi nungguin di kursi atas. Sempet selfie sana-sini, bahkan, ada yang tidur =)) Kampus saya yang notabene fakultas terbaru, dapat giliran terakhir untuk diwisuda. Kebayang dong ah... dari sekian ribu wisudawan-wisudawati, kita paling bontot. Sampailah giliran kita, asli, cuma mau mindahin toga doang lho ini, begegarnya minta ampun! Grogi bangettt. 

Padahal, prosesinya cuma: disebutkan nama lengkap à maju ke hadapan Rektor kampus à nunduk dikit à pindahin toga dari kiri ke kanan à salaman à geser ke Dekan fakultas à ambil map à salaman à kelar dehhh. Prosesi itu cuma semenit doang paling. Sialnya, wedges saya talinya kebuka dikit waktu naik tangga menuju rektor. Shttt. Syukurlah, Cuma ngesot-ngesot dikit dan tetap senyum. Prosesi paling mendebarkan abad ini pun akhirnya kelar juga =)) Wisuda diiringi hujan deras diluar sana, eh plus mati lampu juga beberapa saat. Kacau dahh =))

Acara wisuda dan teman-temannya kelar sekitar jam 12 siang, dilanjutkan acara perpisahan kampus jam 2 nya. Sejujurnya, kita nggak punya ekspektasi yang tinggi buat acara ini, yah, kita ngertilah dengan segala keterbatasan yang ada. Dan ternyataaaa.... Acara ini pun sukses bikin baper! Simple but touchy deeply :’) Sedih banget waktu sesi ungkapan terimakasih ke orangtua dengan setangkai mawar, I couldn’t handle my tears. Tumpeh kemane-mane dah... And my dad hugged me for the first time!! :’)))

Suasana perpisahannya juga berasa banget. Sedih banget waktu sadar ternyata udah 4 tahun lamanya kuliah disini, bertemu dengan orang-orang yang sama, dosen, teman-teman, kantin, praktikum, laporan, aahh... Gonna miss every single thing about this college (except the exams).

Sebentar lagi kita bakalan pisah dan nerusin jalan hidup masing-masing. Walau rata-rata pada mau kuliah lagi, tapi pada mencar-mencar gitu. Nggak tau kapan bisa kumpul bareng lagi. Terlalu banyaaakkk momen yang udah kita laluin bareng ya guys, pokoknya YOU’RE IRREPLACABLE IN MY HEART lah kecuppp atu atu. This is it. A phase that I hate the most in life : Farewell. 
Pose dengan selempang "kode kerasss" :))
Alhamdulillah, walau sempat mengundur beberapa kali, akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah (yang saya akuin, berat bangeettt) dalam waktu 4 tahun. Satu kewajiban terhadap orang tua selesai sudah...

Buat teman-temanku, mahasiswa tingkat akhir di luar sana yang sedang berjuang, tetap semangat ya. Jujur aja, skripsi adalah titik paling stress dalam hidup saya sejauh ini. Intinya, jangan cepat menyerah pada keadaan, kalau merasa segala hal tidak berjalan sesuai rencana, mungkin usaha kita kurang gigih, doa kita kurang sering... Wisuda bukan hanya tentang diri sendiri, tapi ini kewajiban kita kepada orangtua, yang sudah jadi sponsor utama dalam hidup kita selama ini.

Tapi sebenarnya yang terpenting adalah: setelah sarjana, lalu apa? J


12/09/15

Skripsi Journey

SKRIPSI, sebuah momok bagi mahasiswa semester 6 hingga semester tak terbatas. Tak kenal tempat, tak kenal waktu, adaaa aja hal-hal yang mengingatkan kita tentang skripsi. Makin banyak jumlah semester, tingkat sensitivitas kalau ditanyain tentang skripsi pun semakin tinggi. Tidur tak nyenyak, makan tak enak. Selalu kepikiran deadline. Skripsi itu udah kayak teror di hari-hari kita, menyita perhatian, perasaan, dan pikiran. Kalau mengeluh tentang skripsi, gak bakal ada habisnya. Buka sosial media, dari jaman belum jadi mahasiswa sampe sekarang nyaris jadi alumni, tema skripsi masih jadi trending topic dikalangan mahasiswa akhir, pokoknya udah dikupas tuntas, dikuliti, sampe disumpah serapah. Dulu ngiranya mereka lebay aja, tapi setelah ngalamin sendiri, those all are feel so DAMNNN right.

Mari kuceritakan kisah skripsi-ku. Aku mengambil skripsi pada semester 7 (sekitar September 2014) dan saat itu I really had no idea mau skripsian bidang apa dan judul apa. Setelah ngadu dengan dosen PA kalau nggak berani ambil skripsi karena nggak punya ide, pada akhirnya merasa nekat untuk masukin skripsi bernilai 6 SKS ini dengan pertimbangan : kalau nggak sekarang, kapan lagi? Dan aku dari dulu meyakini 'the power of kepepet', kita bakalan bisa melakukan sesuatu yang kita kira kita nggak mampu. Sejak saat itu, skripsi jadi bisa mengguncang hubungan pertemanan karena kita jadi bersikap agak individualis atau "bersolo karier". Udah nggak ada lagi yang namanya tunggu-tungguan, pokoknya ini untukku skripsiku, untukmu skripsimu, and we have our own responsibility to it. Tapi tetap kita harus support saling satu sama lain...

Oktober 2014. Masih banyak bidang-bidang yang mau dipilih, masih terlalu luas. Berkali-kali pindah minat, gonta ganti teman untuk 1 tim tema yang sama, pokoknya masih abu-abu banget.

November 2014. Udah ada tiga teman yang jadi orang-orang pertama dari angkatan 2011 yang mecahin telor seminar proposal. Sementara aku baru nemu tema dan teman satu tim yang Insya Allah fix, dan kami udah menghadap dosen pembimbing 1 dan siap mengajukan judul.

Desember 2014. Akhirnya aku udah punya judul yang fix yang sudah di acc. Pengumuan acc skripsi sekaligus pengumuman dosen pembimbing 2 serta dosen-dosen penguji. Aku yang sebelumnya udah pernah nonton sidang kakak-kakak tingkat sedikit banyak jadi tau karakter dosen-dosen pengujiku. Bikin deg-degan banget dan sejak hari itu ada rasa yang tak biasa ketika nggak sengaja ketemu atau ngeliat mereka dari kejauhan :') Target untuk maju seminar proposal di bulan Januari. Namun, apadaya...

Januari 2015. Harusnya bisa maju, tapi aku dan tim merasa belum siap dan terlalu mepet. Dan sudah semakin banyak teman-teman yang udah maju seminar.

Februari 2015. Aku maju seminar proposal pada hari Rabu, 25/2/2015. Rasanya tuuuhh...... cerita lengkap disini --> (klik).

Maret 2015. Sempat terlena gara-gara udah seminar, seminggu full nggak ngapa-ngapain dan baru mulai revisian di minggu kedua, padahal waktu revisi cuma 2 minggu. Hadehhh. Pokoknya bulan maret masih ngurusin revisi dan ngumpulin berkas, survei-survei alat, tetek bengek administrasi buat memulai penelitian.

April-Mei 2015. Langkah pertama penelitian pun dimulai : destilasi. Yang ternyata butuh waktu sebulan lebih. Hampir setiap hari (Senin-Jumat) bahkan tanggal merah kita harus nungguin destilasi dari jam 7 pagi sampe sore banget jelang magrib demi ngejar target. Bagian ini menguras uang, waktu dan juga tenaga karena teknisnya berat banget. Mulai dari ngumpulin sampel sampai pengoperasian alat. Mana numpang lagi di fakultas lain... Kendala di tahapan ini tuh udah nggak bisa dijabarin satu per satu deh, ada aja gitu. Tapi Alhamdulillah semua bisa teratasi dan terlewati. Makanya, di hari terakhir destilasi rasanya tu plong banget.

Juni 2015. The real problem was coming. Sebelumnya destilasi itu cuma tahap awal dan belum masuk ke inti penelitian. Bulan Juni ini seharusnya kami masuk ke inti. Namun ternyata banyak kendala-kendala hingga akhirnya hasil dengan musyawarah bersama pembimbing dan atas dasar banyak pertimbangan, penelitian aku dan tim nggak bisa dilakukan di kampus sendiri, bukan ke kampus lain tapi harus di tempat lain, kota lain, provinsi lain : Balai Litbang Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan! Jeng jengggg.... I have to write a special chapter for this one deh kapan-kapan. Intinya, rencana penelitian disana hanya seminggu, namun dengan kendala yang ada akhirnya harus stay selama 3 minggu (bulan Ramadhan pula!) dengan hasil yang kurang memuaskan karena harus ada bagian yang terpaksa di cut. 12 Juni - 5 Juli 2015, such a great journey and experience I won't ever forget :'))))

Juli 2015. Antara masih terlena gara-gara baru selesai penelitian dan ngejar target sekaligus mau lebaran. Break lebaran 1 minggu sama sekali nggak mikirin skripsi. Setelah itu baru bisa fokus (alias dibisa-bisain) buat kejar target maju sidang di bulan Agustus. Kesempatan terakhir di semester 8, kalau nggak harus bayar daftar ulang lagi dan masuk ke semeter 9. Ini baru yang namanya "the power of kepepet". Pembahasan masih acakadut, ada surat yang belum jadi dari LIPI Bogor sana, dan hal-hal lain yang bikin bimbang untuk maju, tapi akhirnya nekat juga buat daftar sidang. Ada jeda selama seminggu dari hari daftar ke hari sidang, seminggu ini kuisi dengan bolak-balik konsul dengan dosbing sambil terus-terusan meyakinkan diri sendiri.

Agustus 2015. Apapun yang terjadi, terjadilah... 12 Agustus 2015, jadwal sidang akhir ku, lagi-lagi hari Rabu. Ironisnya, hari itu bersamaan dengan hari wisuda :') Malahan sebelum sidang, aku masih sempat datang ke wisudaan teman-teman yang telah mendahuluiku :') Perasaan nervous tak selebay waktu proposal dulu, ntah karena udah siap atau udah pasrah, hehehe. Tapi seperti biasa, tetap nggak bisa makan sampai sidang kelar. Sidang dimulai jam 13.00 lewat-lewat dikit. Sidang berlangsung kurang lebih 2 jam. Selalu kutanamkan dalam otak ini, mereka (dosen-dosen dihadapanku) boleh jadi lebih pintar dan lebih segala-galanya, tapi di skripsi ini, akulah yang paling mengerti because I am the author. Penguji itu fungsinya untuk menguji sejauh mana kita memahami penelitian kita dan meluruskan yang perlu diluruskan. Kalau kata dosbing-ku, semua ini kamu yang ngerjakan, kamu yang tau, bukan mereka. Jadi yaaa PD aja lagiiii... Dosen-dosen di hadapanku itu memang orang-orang yang kompeten di bidangnya, teliti bangeeett. Banyak banget koreksiannya terlebih yang typo-typo-nya bikin malu aja (T_T). Kalau tentang isi penelitian Alhamdulillah bisa dipertanggungjawabkan, meskipun data yang ajaib itu sering jadi pertanyaan. 

Saatnya pembacaan hasil.... Walaupun rasanya sudah memberikan yang terbaik, tetap aja saat-saat itu bikin deg-degan, soalnya sekaligus pembacaan nilai. Tahan napas beberapa detik biar nggak salah dengar. Hasil dibacakan langsung oleh penguji pertama, Alhamdulillah lega banget waktu dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Langsung ter-rewind perjuangan dan pengorbanan di 10 bulan terakhir, yang menguras emosi, materi, pikiran, waktu, tenaga dan segalanya, dan sekarang, hari itu juga, telah selesai dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah, segalanya terasa setimpal :)
Bersama dosen pembimbing dan penguji, pardon my sumringah face :')
support dari teman kecil ampe gede means a lot :')
(sebagian kecil) teman-teman seperjuangan 4 tahun barengan :')
Setelah sidang. Waktu yang diberikan untuk revisian yaitu 2 minggu, tapi seperti biasa aku terlalu terbuai di minggu pertama. Walaupun akhirnya bisa diselesaikan dalam 2 minggu, tapi tetek bengek seperti penjilidan, publikasi dan sebagainya masih belum terselesaikan sampai sekarang :')

Buat teman-teman semuanya, siapapun yang lagi skripsian, tetap semangat dan jangan putus asa!!! Ini hanyalah salah satu fase dalam hidup, pasti bakalan lewat kok. Ujian nasional, ujian masuk PT, uts, uas dan ujian-ujian lainnya aja kita udah lewatin tanpa terasa, padahal dulunya khawatir banget. Nah gitu juga dengan ujian skripsi :)))

Well, gak sabar buat wisudaan bulan Oktober nanti, yeay!!!

14/07/15

Empat Bulan

Saya masih hidup, teman-teman, percayalah! *ngomong sama buntut cicak*

Sudah 4 bulan saya nggak ngetik-ngetik cantik disini. Berarti udah masuk trimester kedua ya

Sekarang kerjaan saya tuh ngetik-ngetik cantik-nya di microsoft word dong yah. Terus diprint. Terus dicoret-coret deh. Yah, dengan kata lain, SKRIPSIAN. Jadi pengen nyanyi...

Revisi...revisi...revisi.... Revisi sampai matiiii 
*maap pak, itu reformasi keleuz*

Jadi, sejak seminar proposal bulan Februari sampai sekarang, skripsinya belom kelar juga??!!! Yah, gitu deh. Ternyata perjuangan menyelesaikan skripsi benar-benar nggak semulus paha member JKT48.

Mau tau nggak, apa yang terjadi selama 4 bulan ini? Mau? Mau ya? Mau dong ah... Pleaseee *apasih ah*

Banyak bangeeeet, mulai dari nonton Stand Up Special RULE OF THREE-nya David, Abdur, Dzawin, terus nonton konser SHEILA ON 7, sampai perjalanan saya menuju ujung KALIMANTAN SELATAN (dikit lagi Kaltim) via jalan darat lebih dari 36 jam dalam rangka penelitian SKRIPSI!!!

Keren, Kan??? Keren dong. Please, bilang keren gitu.

Duhhhh jadi nggak sabar pengen ceritain satu per satu. Tapi ntar dulu deh, saya mau bikin pembahasan skripsi dulu, kalau sering salah fokus gini kapan anakmu ini bisa wisuda Mak.

And... by the way, target wisuda saya mundur lagi deh. Yang tadinya akhir juli, jadi bulan November. *jauh amat brooo*

Tapi, target sidang akhir di bulan Agustus bro. HARUS SUDAH SARJANA. Oke? Oke Bro...

12/03/15

Salah Jadwal

Kesalahan dalam melihat jadwal bisa menjadi pemicu atas masalah-masalah yang akan datang kemudian. Salah jadwal kendaraan, bikin kita terlambat sampai tempat tujuan, bahkan mengacaukan jadwal-jadwal selanjutnya. Salah jadwal piket kelas, bikin rugi karena mengerjakan kewajiban orang lain. Sampai salah jadwal Imsak, bikin kita harus bertindak bagaimanapun caranya untuk bertahan sampai maghrib, misalnya ngemil bakso sambil ngabuburit *lah!*

Ada suatu kejadian salah jadwal yang saya alami baru-baru ini, yang bikin KZL dan tengsin sekaligus, saya salah jadwal ujian!

Alkisah di suatu Jumat yang cerah, hari itu hari ke-empat ujian. Hari-hari sebelumnya jadwal ujian dimulai jam 15.00. Di kampus saya, semakin banyak jumlah semester anda, maka semakin sore lah jadwal ujian anda. Jadi hari itu saya sangat santai, bangun siang, nggak belajar karena kebetulan ujian hari itu bersifat open book. Bahkan saya baru mandi jam 13.00.

Tanpa firasat apapun, saya sempat mengganti Display Picture BBM dan chat sama seorang teman. Jam 14.00, saya berniat bergegas dengan gerakan slow motion karena mager-nya luar biasa. Tiba-tiba saya mendapati handphone dipenuhi BBM yang menanyakan saya dimana. WHAT? Kenapa nggak ujian. DOUBLE WHAT WHAT??

Oh my godness! Ternyata jadwal ujian hari itu jam 13.00. Beberapa teman menyarankan untuk menghadap dosen yang bersangkutan, yang kebetulan juga ketua panitia ujian. Nggak pake lama-lama lagi, saya pun langsung tancap gas ke kampus. Belum cukup penderitaan, sampai di kampus pun harus tahan di cengin teman-teman karena kejadian konyol ini. Sebelum bertemu dengan ibu dosen yang terkenal baik itu, saya berkonsultasi dulu dengan beberapa teman, apa yang harus saya katakan, jujur saja ataukah pake skenario mainstream : ban bocor di jalan raya yang tidak ada bengkel dan sekalinya nemu bengkel ternyata harus antre. Beberapa menyarankan opsi kedua, tapi lebih banyak yang memilih opsi kedua. Sebenarnya, dengan tampang saya yang polos ini, dosen bisa percaya-percaya aja dengan alasan saya. Sudah pernah terbukti soalnya, hehehe. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk jujur saja. Jujur tuh memang menyakitkan. *lho?*

Setelah ngumpulin nyali, saya pun masuk ke ruang dosen dan mendapati ruangan kosong kayak hati saya. Yaiyalahhh, ternyata sudah sore. Saya pun pulang dengan perasaan ketar ketir tak menentu. Saya punya pikiran terburuk, tidak bisa ikut ujian dan dapat nilai E. Dan untuk mengulang mata kuliah ini artinya harus menunggu di semester ganjil, artinya itu saat saya di semester 9. Mau lulus kapannn?

Akhirnya saya mengirimkan SMS ke ibu dosen yang intinya memohon maaf dan menanyakan bagaimana nasib saya. Tidak dibalas. Saya SMS lagi, dan di balas : "terlambat 15 menit saja tidak ada toleransi". DEG!. Ibu yang terkenal baik ini, balas sms saya seperti itu! Aihmatekkk. Nggak lama kemudian lanjutan sms tadi masuk, ternyata tadi belum selesai. "Senin temui saya untuk membicarakan hal ini". Ah, setidaknya masih ada yang bisa dibicarakan.

Singkat cerita, di hari Senin saya temui beliau. Walaupun harus merelakan diri ini kena omel, tapi pada akhirnya saya diperbolehkan ujian susulan saat itu juga di ruang dosen, dengan catatan : waktu ujian dikurangi 25 menit dan harus membuat makalah. Good. Jadi punya waktu 50 menit buat mengisi sekitar 8 soal kasus yang jawabannya panjang-panjang. Makasih, Bu. 

Ujian selesai dan beberapa minggu kemudian nilainya keluar. Emang baiknya Ibu dosen, ujian saya dapat 80. Ehehehehe.

Ternyata kisah ini belumlah selesai! Suatu hari saya mendapati nama saya masuk dalam 25 nama mahasiswa yang wajib menghadiri suatu pertemuan, tertanda panitia ujian. Wah, sudah pasti ini gara-gara si salah jadwal kampret nih. Dan ternyata benar, pertemuan itu untuk para "pelanggar" ujian. Salah jadwal dimasukkin kategori pelanggaran? Yang bener aje? Jenis-jenis pelanggaran yang terjadi itu ada mencontek, tidak membawa kelengkapan ujian, dan salah jadwal. Sampai di poin salah jadwal, apesnya hanya di poin ini yang pelakunya diminta untuk angkat tangan dan memberikan penjelasan. Double apesnya, pelaku salah jadwal yang hadir di pertemuan cuma saya seorang. Kampret kalian. Hasil dari pertemuan itu intinya saya mendapatkan SP atas perbuatan saya itu. SP. Surat Peringatan. Apa-apaan ini! 

Belum berhenti sampai SP, keesokan harinya nama-nama dan jenis pelanggaran saat ujian dipajang di mading informasi. Terimakasih banyak lho, bapak dan ibu. Jera saya.

Oleh karena itu, teman-teman pembaca semuanya, hendaklah kalian lebih teliti dalam melihat jadwal, jika tidak ingin keapesan-keapesan berikutnya datang menghampiri anda.

Uhlalaa~
Semester akhir saya pun diwarnai dengan kisah salah jadwal ujian yang berujung pada SP.


Only The Beginning

Setelah sebulan lebih tidak menyapa, kini saya hadir dengan status baru : Sudah seminar proposal skripsi. Tapi masih jombloh. *UHUK KODE KERAS*

Ya, jadi itulah mengapa saya agak kudis alias kurang disiplin buat ngisi blog (padahal mah dari dulu kudis). Sebulan terakhir ini disibukkan dengan persiapan diri buat seminar proposal skripsi, yang selama ini kalau dengar kalimatnya itu berasa nonton maraton sekuel Insidious pas jam 00.00 sendirian di rumah yang letaknya di tengah-tengah tanah pemakaman. Horror, bro.

Saking sebegitu horror-nya, saya sudah dua kali mengulur-ulur waktu buat daftar seminar. DUA KALI. Pengennya sih maju bulan Desember, terus mundur jadi Januari, dan akhirnya terealisasi di bulan Februari. *yeeeeee!*

That's why, valentine's day kemarin nggak bisa ngerayain soalnya terlalu sibuk persiapan buat seminar sih *YAKELEUS*

Pengajuan berkas untuk pendaftaran dimulai tanggal 16 Feb dan sampai batasnya di tanggal 18 Feb pun saya masih belum bisa melengkapi. Kendala disana-sini. Dengan jurus wajah memelas, akhirnya berkas-berkas bisa juga dilengkapi di tanggal 20-nya, walaupun sebagai imbasnya harus merelakan nama saya yang indah ini dilingkar-lingkarin di mading informasi karena berkas yang belum lengkap. It's ok wae maz.

Malam sebelum seminar, teman-teman team saya datang untuk menginap sambil simulasi seminar saya. Saya presentasi dan mereka menjadi dosen pembimbing dan penguji. Ya walaupun sulit menganggap mereka itu dosen yang bermartabat dan berwibawa, tapi simulasi itu sedikit banyak bisa memberikan gambaran pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul namun tidak tenggelam *ngomongin apa sih*.

Jam 00.00, harusnya tidur ya karena besoknya itu hari penting! Tapi yang terjadi malah "pillow talk" sampai jam 02.00, ......dan....temanya.....malam itu......tentang.....ta'aruf. Sungguh tema yang sangat relate dengan proposal skripsi saya.

Rabu, 20 Februari 2015. SHOW TIME!!!
Jadwal saya itu jam 14.30, tapi saya sudah duduk manis-asem-asin di kampus sekitar jam 11.00. Ada untungnya juga datang (terlalu) awal, karena siang itu ternyata hujan deras. Perasaan menjelang detik-detik seminar proposal itu : nungguin satu jam berasa seminggu, jadi lebih banyak diam dan nggak masuk ke obrolan sekitar, jadi lebih religius, tiba-tiba nggak berasa lapar, dan ingin muntah. Sounds lebay but it was how I feel. Bukan tanpa alasan, seminar proposal inilah awal yang menentukan nasib skripsi selanjutnya. Tadinya berpikir bahwa dosen nggak bakalan tega buat nggak lolosin proposal, eh tapi ternyata ada juga yang benar-benar nggak lolos. Makanya jadi cemas abeeiss.

14.30 lewat-lewat dikit. Ah, akhirnya. Satu hal yang membuat cemas di awal adalah takut salah nyebut nama dan gelar dosen yang berbeda-beda namun tetap satu jua itu. Tapi ternyata kecemasan saya nggak terjadi. Justru terjadi hal lain yang tak dicemaskan sebelumnya, slide-nya macet saat presentasi! Wogh!! Untunglah tak berlangsung lama. Seperti para leluhur bilang, ternyata rasa gugup cuma sampai bagian presentasi di saat awal, selebihnya rileeeks kayak di Maldives.

Setelah 10 menit presentasi, lanjut ke sesi pertanyaan oleh dua pembimbing dan dua penguji. Waini. Part ini juga terasa rileks, menjawab apa yang saya tau, dan tau-tauin apa yang saya jawab alias sotoy huehehe. Kembali gugup saat nggak bisa jawab, but it's okay, they won't eat you, selama itu tidak begitu crusial, palingan cuma disuruh lebih banyak baca lagi.

Sooo, 1 jam telah berlalu dan saatnya.......decision! jeng jeng jeng jeeeeng

Hasilnya, Alhamdulillah proposal diterima dan bisa melanjutkan skripsi, dengan syarat revisi maksimal dua minggu setelah seminar (11/3). *yeeeeee*

Tapi saya menyesal karena terlalu terlena selepas seminar, akhirnya lagi-lagi hampir aja nggak bisa selesaikan revisi tepat waktu.

Perasaan lega usai seminar sifatnya hanyalah sementara, seperti hidup ini. Karena akhirnya tersadar bahwa perjalanan meraih toga masih sungguhhh jauh dengan kendala disana dan disini. Jiwa, raga, materi, semua harus serba siap! Seminar proposal is only the beginning.

WISUDA BULAN JULI, AMIN! :*

08/01/15

Relatif Tidak Disukai

Aku baru-baru ini menyadari sesuatu yang sesaat lagi akan kuceritakan kepadamu. Sesuatu ini terkadang amat mengganggu pikiran. Mulut ini diam, namun hati berteriak ingin berontak. Apa sih ah.

bisik bisik tetangga (sumber)
Jadi begini. Kita semua pasti sepakat bahwa setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tentu teman-temanmu pun karakternya berbeda-beda. Ada yang kalem ada juga ada-ada aja kelakuannya. Sayangnya, namanya juga hidup, kita nggak bisa maksain orang lain untuk suka sama kita. Pasti ada aja yang nggak suka. Hal yang bikin nggak suka bisa dari hal-hal remeh kayak cara bicara, cara jalan, sikap sampe hal-hal langka kayak kebiasaan nelan permen karet yang terbuat dari ban dalam bulldozer. Hehe. Macem-macem deh.

Nah, sesuatu yang baru kusadari adalah  ternyata sejak dulu aku berteman baik dengan orang-orang yang 'relatif tidak disukai' oleh orang kebanyakan. Kok bisa tau? Iya, jadi saat aku berteman dengan orang lain, mereka ini membicarakan betapa mereka tidak menyukai temanku yang 'relatif tidak disukai' ini dengan berbagai alasan. Mereka mungkin lupa kalau aku berteman baik dengannya, makanya woles aja pas cerita. Ataupun kalau ingat dan sengaja pengen tetap cerita, biasanya dibarengi dengan kalimat semacam, "eh iya lupa ada temennya disini". Saat itu aku cuma bisa diam, terus pergi. Rasanya campur aduk. Orang yang nggak punya masalah apa-apa dengan kita harus ngalamin omongan belakang punggung yang menyakitkan kayak gini. Suka nggak ngerti kenapa mereka segitu bencinya, apa sih salahnya? Sedih juga kalau dipikir-pikir, mungkin aku cocok berteman dengan orang yang 'relatif tidak disukai' karena aku termasuk dalam golongan itu. Siapa yang tau kan? :)

People always have something to say
Apapun yang kita lakukan, sebaik apapun bersikap, selalu ada celah buat jadi bahan komentar orang lain. Jadi ya siapin mental baja aja untuk bertahan hidup. Dunia ini keras bung! Kalo lembek mah onde onde! Tul nggak?!

Realistis

This gonna be the first post ever at tu tauzen en fiftiiiin *goyang bang jali*
sumber

Awal tahun gini sih mainstream-nya ngomongin resolusi. Apa itu resolusi? Re = pengulangan. Solusi = ya...solusi. Jadi resolusi adalah solusi yang diulang-ulang. #gagalpaham

Makin nambah umur, makin nggak berani mengharapkan yang tinggi-tinggi. Rasanya cukup yang realistis-realistis aja dan memungkinkan untuk digapai. Gak masalah kalau kamu punya harapan tinggi, asalkan kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk menuju kesana. Intinya sih, kalau aku sekarang udah nggak bisa lagi deh ngarep buat jadi the next asia's top model...hiks #muntahberjamaah

Jadi apa dong harapan realistis buat Tahun 2015 ini? Simpel aja sih, cuma pengen lulus kuliah, kerja dan berpenghasilan sendiri... Hidupku mainstream banget ya. Ntar kalau udah duitnya buat traveling ke seluruh pelosok tanah air (efek iri liat foto-foto traveling punya teman-teman). Tapi kalau traveling mungkin tidak di tahun ini. Mungkin tahun depan. Atau tahun depannya lagi. Bareng kamu~ Iya... Kamoeh. #wuek

Kalau kamu punya harapan yang lebih membahana dari punyaku? Atau sama seperti ku? Hmm.. mungkin kita jodoh.



26/12/14

Tipe Teman (yang nggak enak diajak) Curhat

Mamah Dedeh... curhat dooongg ah cyin.. yuk.. capcus

Di dunia ini, mau cewek atau cowok atau bahkan yang setengah-setengah pun, pasti demen sama yang namanya curhat. Cuma caranya aja yang beda. Kalau cewek cenderung detail, panjang dan tumpe kemane-mane, sedangkan cowok (setau sayah) sekedar garis besar aje..

Tujuan curhat sebenarnya nggak selalu butuh saran sih, kadang hanya ingin didengarkan. Tsaelah... Paling asik tuh curhat sama temen yang bersungguh-sungguh dengarin curhatan kita, antusias, dan nanggepinnya nggak males-malesan.. (setidaknya nggak usah ditunjukin keleus kalo males, kan jahat itu namanya) :|

Nah, tapi ada juga tipe teman yang nggak enak diajak curhat. Berdasarkan pengalaman nih (menurut hemat sayah), secara garis besar tipe-tipe-nya tuh kayak gini..

1. Suka Numpang Curcol
Ini yang paling menyebalkan nih. Pasti pernah dong, niat curhat ke temen tapi ditengah-tengah cerita tiba-tiba dia memotong gitu aja, kemudian lampu sorot pun mengarah ke dia. Suka nggak suka kita pun kembali duduk di baris penonton. Misalnya kita lagi curhat galau. "Aduh gimana yah.. Udah seminggu, tapi aku belum BAB juga deh. Padahal tuh.." terus langsung direspons "oh...kayak aku dulu tuh. Kalo aku sih.....trus...eh udah gitu....Jadi gitu." Lahhh, jadi kita yang dengarin. Kalo gitu sih kitanya cuma bisa nyengir kuda sambil nyikat wc saking keselnya (biar produktif bro).

2. Suka Bikin Down
Pasti juga pernah nih curhat ke orang yang salah kayak begini.. Niatnya pengen dapat semangat malah dijatuhin. Misalnya, "eh kira-kira kenapa ya akhir-akhir ini si X  tuh baikk banget sama aku, masa' aku ngutang gak pernah ditagih.. Ada apa ya, jangan-jangan..." terus direspon sama temen curhat "Oh dia kan emang baik ke semua orang." Hmm, ogitu, okay :|

3. Bocor
Yang ini nggak kalah ngeselin... Kadang dia itu nggak tau kalo hal itu nggak perlu dibilang ke orang-orang, atau dia tau tapi anaknya memang ceplas ceplos bin keceplosan.. Misalnya dulu kita pernah cerita kalo kita sebenarnya adalah Saras 008. Terus tiba-tiba saat ada sedikit kisruh, misalnya ada seekor cicak nyangkut di rambut seorang teman, dia berteriak dengan lantangnya "Tenang teman-temanku! Tenang. Di antara kita ada Saras 008 yang jago bela diri, dia akan menghabisi cicak bedebah itu!" Kan kalo udah begitu, kitanya jadi tengsin...

Kalo menurut kamu, apalagi sih tipe-tipe teman yang nggak enak diajak curhat?
*Pake pertanyaan di akhir biar kayak blogger*

11/11/14

Ritual Pembuka

Asal tau saja, laptop ini sudah nyala dari setelah Isya tadi sampai sekarang jam 01.00. Ekspektasi : benerin beberapa tugas dan mengkaji literatur buat skripsi. Realita : laptopnya dianggurin. Karena tangan ini automatically ambil henpon lalu scroll naik turun cantik sampe batre habis. Kalo udah gitu, saatnya ngapelin laptop.

Sekarang giliran jari jemari yang automatically ngetik-ngetik cantik dan klik-klik cantik ke berbagai web address, sampailah jam segini hingga saya menyesal karena tidak melakukan apapun...

Bukan kali pertama hal kayak gini terjadi. Susah banget sinkronnya antara otak dan jari-jemari ini. Semua jadi terbengkalai. Sedih :(

Saya juga sih yang salah, sering memberi excuse ke diri sendiri. Macem-macem excuse, dari 'ntar deh belum mood', 'kan deadline masih jauh', 'besok aja kan besok libur', sampai 'ntar aja mblo kalo udah nggak jomblo'. Yah, lama dong :(

Pokoknya gitu deh, banyak waktu yang akhirnya terbuang sia-sia udah kayak rasa ini ke kamu, percuma. Kerjaan pun jadi nggak kelar-kelar, bahkan dimulai aja belum. 

Kalau bisa saya jabarkan, sebenarnya kejadian diatas itu adalah sebuah proses. Setelah saya menyepi dan bertapa ke Gua Elo-End selama 3 menit, saya pun akhirnya dapat menyimpulkan proses apa yang terjadi selama ini. Ini adalah sebuah pola proses pengerjaan tugas yang ternyata telah saya anut berabad-abad tanpa saya sadari. Tenang, jangan sedih, saya akan bagikan langkah-langkah proses ini kepada anda semua

Pertama, kita harus ngumpulin niat dulu. Ini yang paling penting. Niat itu harus kuat dan tak tergoyahkan ya, pokoknya nancep di pikiran dan hati. Waktu yang dibutuhkan untuk membangun niat ini mulai dari hitungan menit, jam bahkan hari. Misalnya, hari ini kita berniat, besok harus ngerjain tugas. Nah itu udah good start, bro and sis! Selain apa yang akan dikerjakan, dalam pembangunan niat kita juga harus mematok target kapan selesainya. Niat ini harus selalu diingat di step-step berikutnya. Kedua, setelah niat yang kuat, kumpulkan peralatan yang mendukung seperti laptop, atau daun pisang (just in case tugas kamu adalah membuat lemper). Kalau niat sudah kuat sih, step kedua ini tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 15 menit. Nyalakan laptopmu, dan buka gulungan daun pisang mu. Ketiga, biasanya dibutuhkan appetizer sebelum masuk ke main course. Jadi sebelum bergelut dengan tugasmu, adakanlah ritual pembuka terlebih dahulu, agar pikiran fresh. Sehingga nantinya dalam pengerjaan tugas akan terasa lebih ringan dan lancar. Tetap ingat langkah pertama ya! Jangan sampai kebablasan. Ritual pembuka ini bisa macem-macem, kalau saya sih dengarin lagu favorit sambil karaoke beberapa album musik lalu nonton film. Cek media sosial. Main game. Keempat, sampai deh di main course. Wah....ternyata sudah terlalu larut malam untuk ngerjain tugas. Begadang itu nggak baik bro buat kesehatan. Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya bro. Begadang boleh saja, asal ada temennya. Pokonya. tugas yang dikerjakan dengan keadaan tubuh yang lelah pun hasilnya tidak akan maksimal. Lebih baik istirahat saja dan lanjutkan besok bro.

Dan itulah siklus nasib tugas saya, every single day.
Sekarang saya lagi menikmati ritual pembuka. Sebentar lagi memasuki main course. Nggak ngerti saya daritadi ngetik apaan ini.

23/09/14

Teruntuk : Kamu

Hai, apa kabarmu?
Tak terhitung berapa lama sudah aku tak melihat batang hidung itu,
Tak melihat tawa lepas itu, dan canda yang serius itu

Masih lekat di memori,
Ajakan yang kuanggap sebuah janji,
Tapi mungkin tak sengaja teringkari,
Tak apa, aku telah berhenti menanti

Ketika lambat laun terlupa
Namanya datang kembali menerpa
Mengulik rasa yang dulunya ada
Ah, segera tepis saja
Selalu percaya, ini tiada arti baginya

Hingga tiba di hari yang sama pula
Saat senja dihantam jutaan tetes dari langit jingga
Batang hidung itu terlihat olehku tak sengaja

Aku hanya butuh sepersekian detik
Sebab terbaca dari khasnya yang nyentrik
Ditemani dengung bising jalanan yang berisik
Ia tembus angin yang gemerisik
Dan aku hanya mampu merasakan angin yang terusik

Rasa yang begitu sederhana,
Lega melihatnya masih baik-baik saja,
Walau hanya merasakan anginnya,
Sudah cukup membuat jiwa ini bergetar semena-mena.

Tentang siapa dia,
Biarlah jadi rahasia
Biar Tuhanku dan aku yang menjaga
Yang lain hanya boleh sekadar menerka
Walau kuharap tak ada yang mendekati jawaban sebenarnya

Teruntuk: Kamu,
Semoga kau tak pernah tahu
:)

10/09/14

Tujuh Huruf Keramat

Memasuki tahun ke empat di bangku kuliah...

Gila yah, we are growing so fast!
Masih ingat banget rasanya jadi mahasiswa baru yang lugu nan polos (sampe sekarang masih lugu dan polos kok), rasanya kerempongan pertama kali ngerjain laporan praktikum sampe nginep, rasanya dapat IPK seleketep :(

Tahun pertama kuliah, ada perasaan salah jurusan, IPK menyedihkan
Tahun kedua kuliah, berusaha menerima dan menjalani apa adanya, IPK lumayan tidak menyedihkan
Tahun ketiga kuliah, memperhatikan gelagat teman yang makin serius, nyoba ikutan serius namun gagal, IPK lebih menyedihkan lagi
Tahun keempat, now I can't go anywhere, I have no choice, all I have to do : FACE IT.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK_18Y5XJBHhyl4gHfb7_cYbTiuQ7RtpUfPA2971Xc9Z0nB2sq57rFiyUcxjaZ4GmyKJjwGhQ97X9xcOn-k8c5_ZeNNkjoXbxbvvIvLHs4GjAbGe26SL7KiEZb6TGTkA36-1PqMAt9KtA/s1600/toga+diatas+buku+tebal2.jpg

Maka dengan ini saya nyatakeun, nekat untuk mengambil 7 huruf keramat itu (read: SKRIPSI) pada semester ini, untuk dapat diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pontianak, hari sembilan boelan sepoeloeh, 2014

26/08/14

Sepenggal Kisah KKL

Akhir Mei sampai awal Juni lalu, aku berkesempatan pergi “liburan berkedok KKL” ke Jakarta-Bandung. Lima hari pertama full diisi kegiatan KKL, yaitu : hotel-kunjungan 1-makan siang-kunjungan 2-makan malam-hotel. Hari berikutnya adalah KKL extension alias “KKL” nambah-nambah sendiri. Mulai dari situlah pola hidup dan kebiasaan di 5 hari pertama itu berubah. Setelah 5 hari itu, kita terbagi menjadi kelompok-kelompok dengan tujuan “liburan” yang beda, ada yang balik Jakarta, stay di Bandung, bahkan ada yang nyasarnya kejauhan sampe Jogja dan Bali. Terpaksa kita berpencar, dan survival pun dimulai karena pihak kampus udah nggak ada urusan dengan kita. Nggak ada lagi yang namanya mandi air hangat di subuh yang dingin, kasur dan selimut cozy, tv kabel, sarapan-tinggal-pilih, makanan-tinggal-dimakan, transportasi-tinggal-naik. Aku dan beberapa temanku memilih stay di Bandung. Kita pun menggelandang :D

Beruntung travel dari kampus mau nganterin kita ke penginapan ala survival yang udah kami pesan sebelumnya. Penginapan sederhana –sangat sederhana, bukan hotel- yang letaknya ternyata strategis, ke Gedung Sate aja jalan kaki 5 menit (katanya, kenyataannya sih 15 menitan, mungkin karena kita jalan pake efek slow motion). 

Namanya Wisma PU di Jalan Riau, satu kamar ada 4 bed, dan seingatku tarifnya sekitar 40ribuan/malam/orang. Fasilitasnya ya worth it lah dengan harganya. Buatku pribadi sungguh bukan masalah besar kalau harus mandi pagi tanpa air hangat (walaupun dinginnya emang ampun-ampunan!), TV bukan TV kabel, tanpa AC, kamar mandi diluar kamar, sungguh, no problem! Karena kita disitu cuma numpang istirahat setelah seharian melanglangbuana, mau tidur beralaskan tikar dan berlangitkan bintang pun akan tetap nyenyak saking capeknya (yakeleus).

Kami stay di Bandung ini selama 4 hari. Satupun di antara kami tidak ada yang ngerti jalanan Bandung, kemana-mana modal sebongkah nekat dan segenggam uang ribuan buat naik angkot. Rencananya sih pengen explore Bandung mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, sampe wisata alamnya. Tapiiii… ternyata wisata belanjanya lebih menggiurkan. Entah berapa kali bolak-balik Cihampelas Walk (CiWalk), pasar baru, BTS, dan Paris Van Java (disini mah wisata mata aja), sampe hapal sama rute angkot. Lagipula, lokasi pusat Kota Bandung dengan lokasi wisata-wisata alam itu ternyata jauuuuuhhh bener, selain bingung mau naik apa, bingung juga gimana ngatur budget biar bisa survive setidaknya bersisa untuk bayar airport tax buat pulang (sedih ya).

Tapi jangan sedih, jangan pula meragukan jiwa gelandang kami. Dari awal perencanaan ke Bandung, kita udah ngebayangin sebuah wisata alam yang kalo di foto itu bagaikan negri di awan putih. Dengan tekad yang kuat, usaha yang giat (usaha cari transport murah dan maksain teman yang ada di tempat lain buat ikutan biar tambah murah), di H-1 kepulangan kami, akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di Kawah Putih Ciwidey, Bandung! *yeeeeeeee*
Namun kalian perlu tau kisah dibalik perjalanan yang hampir memakan waktu sekitar dua jam itu. Jam 7 pagi kami udah siap (bayangin mandi dengan air nyaris beku pagi-pagi gitu gimana rasanyaaa), dan transportasi yang kami gunakan adalaaahh : angkot charteran,secara kita angkot lovers. Geng-geng lain ke Kawah Putih dengan travel 600ribuan/mobil dengan muatan hanya 9 orang, sedangkan kita charter angkot 400ribu ber sebelas orang!!! (menang banyak dong). Tapi ternyata jalan dari Bandung ke Kawah Putih cukup terjal, secara Ciwidey itu di atas bukit, kita harus tahan-tahan badan biar nggak keikut gerakan angkot yang berlenggak-lenggok ngikutin kelokan jalan. Semakin keatas, kita disambut dengan pemandangan yang bikin mata adeeeem bener, hamparan perkebunan teh, strawberry, blackberry, dan berry-berry lainnya. Suhunya juga semakin sejuk, berasa di bioskop. Sayangnya, sayang banget malah, aku kurang bisa menikmati pemandangan alam yang maha keren ini karena kepala yang udah pusing dan perut yang udah mual. Sepanjang jalan cuma berdoa dalam hati : “jangan muntah disini….

Akhirnya sampai juga di gerbang selamat datang Kawah Putih Ciwidey. Lega banget rasanya. Turun dari angkot buru-buru ke toilet : muntah. Alhamdulillah, kapan lagi muntah di Ciwidey. Setelah itu rasa yang nggak enak daritadi tiba-tiba hilang saking excited-nya. Baru masuk kawasan udah disamperin sama penjual-penjual stroberi, blackberry dan semacamnya. Harganya murahhhh banget, 3 kali lipat lebih murah daripada di Pontianak, satu mika besar stroberi yang baru dipanen, segar, gede-gede, dijual dengan harga 10ribu. Ya kita kalap lah!! Setelah borong berry-berry-an, kita isi perut dulu. Mie rebus yang kupesan cepat banget dinginnya, dan air mineral biasa tiba-tiba berasa air dari kulkas! Jadi rada norak nih, terbiasa hidup di lingkungan ‘panas bedengkang’ sih.

Ternyata lokasi puncak Kawah Putihnya itu masih jauh. Kalau pakai mobil pribadi, tarifnya 300ribu/mobil. Kalau pakai kendaraan yang dikelola tempat wisata (ontang-anting) itu sekitar 23ribu/orang sudah termasuk tiket masuk kawasan. Pinter nih pengelolanya, ya jelaslah orang-orang lebih pilih ontang-anting, selain lebih murah, sensasinya itu looohh… I was the lucky one, duduk paling pinggir, pegangan seadanya, jalanan berkelak-kelok dan ontang-antingnya ngebut banget... Jadilah kami membentuk ikatan kuat antar siku seperti sedang mengelilingi api unggun pramuka, supaya yang paling pinggir nggak jatoh..

ini loh ontang anting, sumber
Oh, finally, sampai juga di puncak Kawah Putih Ciwidey!!! We were soooooo excited. 
hampir sampe nih
Tadaaa!
Tiba-tiba teringat film “Heart” lalu kami seolah-olah berada di dalamnya, menjelma menjadi sosok Farel, Luna, dan Rachel. Pemandangan Kawah Putih ini cantiikkk banget, tapi bau belerangnya sangat menyengat jadi kita nggak boleh terlalu lama disitu. Jadi, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kita abadikan momen di berbagai sudut dengan berbagai gaya sampai akhirnya mati gaya.


Lalu kita duduk-duduk menikmati pemandangan dan sisa waktu sambil nyemil stroberi yang tadi. Rasanya masih pengen berlama-lama, tapi kita harus cepat pulang karena perjalanan jauh dan besoknya udah harus pulang ke Pontianak. At that time I said “I’m in love with this place”. Semoga ntar bisa balik lagi kesitu.
 
Di perjalanan pulang, rasa nggak enak yang tadi nggak muncul lagi, jadi bisa menikmati pemandangan yang tak ternikmati pada saat berangkat. Yang jadi pikiran saat itu adalah gimana caranya agar stroberi-stroberi ini tetap aman dan nggak busuk sampai di Pontianak?

Ini adalah cerita “KKL” chapter Kawah Putih, sebetulnya banyak chapter-chapter lain tapi sampai saat ini hanya tersimpan di otak aja. Kawah Putih adalah salah satu yang paling berkesan bagiku, mengingat perjuangan dan hampir hopeless-nya kami saat itu. Semoga di lain waktu chapter-chapter lain itu bisa ikutan mejeng disini.

Anyways, stroberi-stroberi itu tiba dengan keadaan benyek dan hampir busuk dengan sukses di Pontianak. I was so sad karena itu rencananya buat oleh-oleh, tapi akhirnya diikhlasin aja dan dibuat jus-hampir-busuk. Delicious so!

23/08/14

Dini Hari

Sabtu. Dini hari. Bentar lagi malam minggu. Ok, gak penting.

Dari kemaren dan sepanjang hari ini udah niat pengen bikin postingan baru, tapi waktu udah pewe depan laptop kayak gini tiba-tiba nge-blank dan gak tau mau ngapain, gak tau mau ngetik apa, cerita apa, mikir apa, kamu siapa, aku siapa, ku hidup dengan siapa, ku tak tau kau siapa -_-

Jadi yaaa, udah segini aja.

:)

24/04/14

WHAT'S UP DUDE!

OH MY GOD
WHAT THE HELL IS GOING ON
WITH MY BRAIN
MY HEART
MY MIND
MY SOUL
MY SPIRIT
MY SAROH....

sudah cukup lama blog ini tidak diisi.
bukan karena saya mati.
tapi karena hati saya yang mati.
*WOI SIAPA ITU YANG NGETIK*

serius.
belakangan ini saya merasa seperti zombie. setiap pagi bangun pagi, saya hanya berniat untuk melakukan rutinitas biasa (kampus, rumah temen, main, nonton, tugas, melongo) tanpa pernah benar-benar menyadari dan menikmati apa yang saya lakukan. saya merasa sangat useelessss kayak tumpukan sampah kulit pisang busuk. :(

tidak mengerti apa penyebabnya. seperti hilang semangat. urusan kampus baik akademik dan non akademik terbengkalai, ujian tengah semester pun carut marut. saya sudah terlalu malas tingat dewaaaa bujana. malas melakukan apapun. kuliah seperti tidak tau tujuan. saya hanya masih belum tau cara menikmatinya.

apa yg saya lakukan tiap malam setelah seluruh rutinitas selesai? tidak ada.
maksudnya bukan tidak melakukan apapun, tapi doing useless gitu. such as : nonton tv, main henpon sampe batre habis, ngecas lagi, habisin lagi, main sama kucing, daaaaan banyak lagi hal tidak penting lainnya! Ah ya, kebiasaan lain yang ngabisin waktu itu : mantengin twitwar sampe ke akarnya.

saya ini penyakit salah fokusnya sudah kebangetan. nonton film aja bisa salah fokus. hal yang jadi fokus justru tidak diambil pusing. kemana sih fokus saya ini? udah habis mungkin. beli dimana ya?

maaf banget ini ya, buat kegiatan apapun yang melibatkan saya, dikampus ataupun diluar, saya sungguh seperti menelantarkannya, gelagat saya seperti ingin mundur perlahan (padahal memang iya), sabar, saya sedang on process menumbuhkan semangat baru.

semangat baru di usia baru.
Happy birthday.
to.........
the new ME.
<3
This awesome pic is made by QISTI, she told me this is her first illustration she ever made, and she spent a few days to make it. so THANKS SO MUCH ;)))



25/02/14

"Pengemis" Followback (on Twitter)

'Follback?'
'Hi, follback ya. Tq'
'Follback dong'

whoooo the heeelll areee yoouuuu?!
Whyyyy should I follow youuu baaackk?!

http://4damelane.ie/wp-content/uploads/2013/08/Twitter-Logo.jpg
Yeah, meskipun bukan artis, ternyata ada aja ya yang minta followback. Padahal, yang namanya follow/followback kan adalah sebuah hak, jadi hak kita dong mau ngikutin isi twit dia atau nggak. Kadang-kadang suka bingung, harus ngerespon gimana mention kayak gitu. Tanpa babibu tiba-tiba minta follback. Pernah suatu ketika mengabaikan mention semacam itu, eh nggak lama ditagih follback-nya ._. Mau nggak mau deh, daripada dikatain sombong nan arogan. Padahal kan aslinya baik hati nan penyayang. Setia lagi *lah*. Karena keseringan mengabulkan permintaan followback, jadilah TL semacam negeri antah berantah, berasa kesasar dirumah sendiri. Udah nggak kenal, nyampah lagi!

Emang kenapa sih harus followback? Padahal kan kita nggak minta difollow, ya? Mungkin biar followernya nambah kali ya. Jadi keliatannya orang beken. Padahal sih, nggak ada tuh korelasi antara jumlah followers dengan tingkat kebekenan seseorang. Buat apa followers banyak tapi hasil 'mengemis', bahkan bukan orang beneran tapi robot (hasil autofollow). Sistem autofollow muncul saking tingginya tingkat keinginan pengguna twitter untuk mendapat followers banyak. Robot-robot twitter dengan username parodi artis/public figur dan akun berfoto telur pun bisa otomatis memfollow sampe angka followers jadi ribuan. Ada juga yang namanya 'team followback'. Kalau ada tiba-tiba akun bule ngefollow, bisa jadi dia bagian dari team followback atau dia pake autofollow. Nggak ngerti deh gimana detilnya sistem ini bekerja. Ini cuma berdasarkan pengamatan aja sih. (Konon selebtwit berfollowers banyak awalnya melakukan ini). Saking berharganya jumlah followers, sampe ada jual-beli followers! Nowdays, everything is bussiness...

Hey chilies (read: cabe-cabean) who really addicted by using sosnet, get a life! Dunia nggak sebatas ibu jari. Jangan cuma biar diakuin sebagai orang beken terus harus punya followers banyak. Kecil-kecil udah kayak pejabat aja hobi pencitraan. Coba kita balik deh, mending jadi artis dulu (atau berkarya), pasti ntar followers nambah sendiri. Rasanya difollow orang karena respect karya kita pasti lebih prestisius ketimbang difollow orang-orang 'terpaksa' atau 'nggak sengaja' (akibat autofollow).

Aku pribadi sih, ngefollow/followback akun orang/ akun dengan alter name itu dengan 2 alasan : emang kenal (minimal tau) orangnya, atau twit dari akun tsb retweet-able. Just that simple. Berarti kalo pengen kenalan gak boleh dong? Bolehhh tapi kan caranya bukan dengan mention 'follback?', lah kita kan jadi bingung ini kenapa tetiba minta followback. Itu tuh rasanya kayak tiba-tiba diseret dan dipaksa dengerin orang merepet, padahal akunya nggak mau ._.

http://www.socialblabla.com/wp-content/uploads/2012/08/twitter-2200x800.jpeg
Demikianlah curahan hati seorang pengguna twitter yang terpaksa ngefollow orang antah berantah. Mungkin suatu saat nanti diberi rasa tega untuk memblock satu persatu. Semoga kita bisa lebih bijak dalam memanfaatkan kemudahan akses media sosial.

Follow me : @afria_K_  *lah ujung-ujungnya promo*

15/02/14

Hobi Lama yang Entah Kemana

Di masa kecil kita mampu menyerap banyak hal, mengamalkan banyak hal, mencari tau banyak hal, baik positif maupun negatif. Dengan sebegitu ngaruhnya banyak hal di masa kecil kita, orang tua pasti sebisa mungkin memastikan 'banyak hal' yang bersinggungan dengan kita adalah hal yang positif. Makanya beliau selalu mencontohkan dan menanamkan hal baik pada diri kita. Termasuk hobi.

Hobi yang ditanam orangtua ku jaman kecil dulu adalah membaca. DULU aku sukaaaaaa banget baca. Apapun aku baca. Majalah bobo, novel anak-anak, komik, cerita rakyat, pokoknya apapun yg disodorkan sama orangtua. Orang-orang di sekeliling sampe banyak yang nyumbangin komik dan buku buatku. Hehe. Posisi rumah yang jauh dari sumber buku (re: pasar), bikin aku sering kehabisan stok bacaan. Kalau udah gitu, ya ngulang baca aja sampe hapal. Tapi nggak masalah, aku tetap suka! TAPI ITU DULU.

Sekarang? Boro-boro.
Entah knapa itu hobi semakin kian memudar seiring pertambahan usia... Sayang banget ya. Padahal buku untuk seusia ku pasti banyak yang bagus-bagus. Tapi entah kenapa, malas gitu. Kalau dulu suka kehabisan stok, eh sekarang stok malah tumpeh tumpeh. Maksudnya, ya ada beberapa buku yang bahkan belum tersentuh. Pemandangan langka di masa kecil. Buku hadiah dari twitter @rumah_perubahan aja belum kebaca, aku yakin itu buku bagus. Judulnya Si Karnoe (mungkin akan ku review dalam waktu dekat). Dulu excited nungguinnya, sekarang setelah datang, kenapa nggak kebaca? Hmm. Nggak sempat? Halah alasan. Intinya sih tetap aja malas.

Orangtua ku yang udah menanam hobi baca dulu, mungkin kecewa ya karna tanamannya malah nggak aku rawat :( Kalau gitu aku harus tanam ulang nih. Tanam ulang hobi baca. Siapa tau buahnya (re: hasilnya) bisa bermanfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara *halah.

Dulu aja bisa ngabisin novel Harry Potter dalam beberapa hari, masa' ngabisin satu buku (yang tak setebal harpot) sekali seminggu aja nggak bisa? Hmm.

(Selain baca buku, baca Quran alias ngaji juga udah jarang, beda banget sama dulu)

Apaaa yang terjaadiiii?? Aaaaakkk.
Bye.

01/01/14

Menunggu Hujan...

Happy New Year 2014! (standar beut)

 sumber

Hari pertama di tahun 2014, ah nggak ada yang spesial. Kecuali sarapan jam 11 pagi gara-gara semalam 'sengaja' tidur telat. Tadi malam ngapain? Keluar sih... tapi tanpa tujuan. Bahkan keluar duit sepeser pun nggak! Beli terompet pun nggak! Bayar parkir pun nggak! Kita emang nggak parkir sih.. Cuma lalu lalang ngeliat spot-spot tahun baruan dan menerka kira-kira bagaimana segmentasinya. Sepanjang jalan (tiap 20 meter, mungkin) ada panggung dangdut yang hampir sejajar tanah, dibangun seadanya dengan terpal dan spanduk "pilih nomor sekian" alias spanduk kampanye. Kalau kaum borju kira-kira tahun baruan kemana ya? Mungkin merayakan di ballroom-ballroom hotel, party gitu. Atau malah nggak di Pontianak kale! Yaiyalah! -_-

Hari pertama di tahun 2014..
Yah, kirain bangun-bangun langsung ketemu jodoh.
Kirain bangun-bangun langsung wisuda.
Kirain bangun-bangun udah jadi pengusaha sukses.
Taunya sama aja.
Justru, sekarang lagi di kampus (WHATT??!)
Terjebak hujan yang deras banget bersama 4 orang rajin lainnya.
Yoi broo, kerja kelompok kitaaah.
Gile, kampus sepi bingit. Internet cepet bingit! ;D

2014, kata Ki Kusumo, adalah tahun Kuda. Tahun pengembara. Jadi janganlah kalian melangsungkan pernikahan, niscaya akan cerai. Janganlah kalian membuka usaha, niscaya akan bangkrut. Jangan lakukan apapun! Niscaya tidak akan berhasil! Andai seluruh dunia percaya kata ki Kusumo.... Nggak ada pernikahan sepanjang tahun. Lalu usaha Wedding EO bangkrut. (oh iya ya, make sense juga sih). hahahaha..

*Catatan absurd menunggu hujan berhenti...*

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

Your Number!

Categories

Who is "A"?

Foto saya
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hello, there! I'm a medical practitioner, hmm but not really... hahaha. It's a pleasure for me to get you here, visitors!

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

To get the latest update of me and my works

>> <<