A-Blog!

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

14/07/15

Empat Bulan

Saya masih hidup, teman-teman, percayalah! *ngomong sama buntut cicak*

Sudah 4 bulan saya nggak ngetik-ngetik cantik disini. Berarti udah masuk trimester kedua ya

Sekarang kerjaan saya tuh ngetik-ngetik cantik-nya di microsoft word dong yah. Terus diprint. Terus dicoret-coret deh. Yah, dengan kata lain, SKRIPSIAN. Jadi pengen nyanyi...

Revisi...revisi...revisi.... Revisi sampai matiiii 
*maap pak, itu reformasi keleuz*

Jadi, sejak seminar proposal bulan Februari sampai sekarang, skripsinya belom kelar juga??!!! Yah, gitu deh. Ternyata perjuangan menyelesaikan skripsi benar-benar nggak semulus paha member JKT48.

Mau tau nggak, apa yang terjadi selama 4 bulan ini? Mau? Mau ya? Mau dong ah... Pleaseee *apasih ah*

Banyak bangeeeet, mulai dari nonton Stand Up Special RULE OF THREE-nya David, Abdur, Dzawin, terus nonton konser SHEILA ON 7, sampai perjalanan saya menuju ujung KALIMANTAN SELATAN (dikit lagi Kaltim) via jalan darat lebih dari 36 jam dalam rangka penelitian SKRIPSI!!!

Keren, Kan??? Keren dong. Please, bilang keren gitu.

Duhhhh jadi nggak sabar pengen ceritain satu per satu. Tapi ntar dulu deh, saya mau bikin pembahasan skripsi dulu, kalau sering salah fokus gini kapan anakmu ini bisa wisuda Mak.

And... by the way, target wisuda saya mundur lagi deh. Yang tadinya akhir juli, jadi bulan November. *jauh amat brooo*

Tapi, target sidang akhir di bulan Agustus bro. HARUS SUDAH SARJANA. Oke? Oke Bro...

17/03/15

SUN 7 : WIN7ER (Abdur dan Bintang Timur)

Udah lama rasanya nggak ngomongin Stand Up Comedy, terakhir itu waktu nonton PARTY LAUGH. Iya, emang udah jarang nonton beginian. Rasanya event-nya juga semakin jarang. Sekalinya ada, guest star-nya nggak sesuai selera, jadinya kan MLZ...

Hingga akhirnya, tanggal 24 Januari kemarin, komunitas @StandUpPTK ngadain event rutin SUN (Stand Up Nite) yang ke -7 bertajuk “WIN7ER” (bacanya winter, bukan winjer), dengan guest star Abdur Arsyad dan Bintan Timur. Waini.... paporit semua.

Kebetulan tanggal segitu adalah hari dimana saya ujian PKL sekaligus penutupan rentetan ujian semester ini yang begitu melelahkan, jadi timing-nya passsss banget. Ujian PKL yang cukup bikin ketar-ketir karena sistem-nya yang seperti ujian skripsi, ujian lisan di hadapan dua dosen penguji.

Sisa-sisa semangat setelah ujian PKL

Sorenya langsung terbang ke venue untuk penukaran tiket, YANG KATANYA, siapa yang nukar tiket lebih cepat, bisa pilih tempat duduk kayak di bioskop. Jadi, walau badai menghadang saat itu, saya dan seorang teman rela basah-basahan demi kursi yang dijanjikan itu (udah kayak caleg). Yah, maklumlah saya sebagai pemegang tiket kelas 2 juga pengen punya view yang setidaknya mendekati kelas 1. Wow, kami ternyata adalah penukar tiket pertama. TAPI NYATANYA, admin yang kemarin bilang sistem bioskop itu ternyata salah info, nggak ada sistem kayak gitu. Tetap aja sistemnya sistem rebutan kayak yang udah-udah. Bang, kamu bikin adek kecewa, bang... Celupin aku ke sisa kuah soto lamongan, bang!

Sudahlah, tiada guna bermuram durja. Malam itu bertekad datang on time ke venue. Walaupun tekad sudah bulat, tetaaap aja ada hal yang menghambat. Di pertengahan jalan, saya balik lagi ke rumah gara-gara tiket teman sepertinya ketinggalan. Eh tapi ternyata di rumah nggak ada! Saya coba hubungi dua teman saya itu, nggak ada satupun yang respon. Mungkin lai di jalan. Yaudah saya nekad pergi. Sampai di venue, ternyataaa...saya emang nggak pernah dititipin tiket, jadi apa yang saya cari selama ini. Aduh, saya emang gitu, kadang suka kelewat cerdasnya.

Untungnya acara belum di mulai. Sebelum open gate, ada semacam surprise gitu dari anak-anak komunitas. Mereka tiba-tiba perform ala-ala boyband. Duh! Tapi saya lagi di toilet. Jadi cuma liat ujungnya aja. Hehehe.

Setelah kelar menukar kupon dengan popcorn dan minuman soda (padahal saya lagi diet), kita pun masuk dan dapat view yang nggak jelek-jelek amat lah. Wow, panggung-nya so winter sesuai dengan temanya. Ada salju dari gabus dan kapas yang di dekor sedemikian rupa jadi berasa di kutub utara. Padahal mah tetap gerah.

Penampakan stage dari kursi tiket kelas dua dan henpon 3 mp


Dan setelah mengamati pangung, saya baru ngeh kenapa tajuknya WIN7ER, tak lain tak bukan karena sponsor utama-nya WINMILX *sengaja typo*. Pantesan, kenapa maksa banget bikin kota khatulistiwa jadi ala ala winter.

Show dimulai dengan aksi anak-anak komunitas dalam parodi yang sangat kocak, pemanasan yang pecah dan mampu membawa suasana. Yang paling saya ingat sih parodi Coke Bottle Anezmo yang miriiiiip pake banget! Dilanjutkan dengan 5 line-up dan 4 battle dari komika lokal. Damn! Progress komika lokal-nya berasa banget! Dari SUN-2 yang merupakan event yang pertama saya tonton, dibandingkan dengan SUN-7 ini rasanya sudah banyak kemajuan. Masing-masing komika punya ciri-khas dan sedikittt sekali nge-bomb nya. Nggak kayak SUN-2 dulu yang kebanyakan bikin ngerasa “aduh ini kapan selesainyaaa, guest star mana guest starrr”. Kalau sekarang, they’re deserved the stage lah pokoknya. Nggak malu-maluin. Hanya saja, saya rasa terlalu banyak sih. Lebih baik kalau yang battle tidak perlu ada, kalaupun ada ya line-up nya cukup 2 atau 3 komika aja. Soalnya, sampai di line-up ke 5 itu udah klimaks banget ditutup sama Meme Daeng, satu-satunya komika srikandi yang gesrek abis-abisan. Penonton udah cukup ketawanya, dan ketika masuk battle jadi keburu cape ketawa dan ngerasa, yaelahhh jadi anti-klimaks iniiih.

Sekitar jam 10 malam lebih dikit, Bintang Timur alias Bintang BT muncul! Dari kursi penonton! Ya ampun Bintang, rambutnya gitu-gitu amat kalau diliat secara lansung. Bintang yang notabene jebolan juara 1 street comedy season 2 ini memulai perform dengan bit rokok dan ASI. Bit yang familiar ini langsung memecah tawa penonton. Dilanjutkan dengan bit-bit yang sangat khas Bintang BT, pendek-pendek dan punchline menumpuk dimana-mana, apalah itu istilahnya. Dan ternyata bit andalan sekaligus favorit saya tentang remote tv dibawain saat itu! Wahhh, saya kira itu bit udah kadaluwarsa. Senang sih bisa dengar secara langsung, dan pecah banget. Ternyata itu adalah bit penutup dari Bintang BT. Well done, mas Bintang, well done! Medium rare! *loh*

Lanjut, guest star kedua sekaligus penutup, Abdur mamasayangeee! Abdur luar biasa energik padahal udah masuk tengah malam. Nggak kebayang gimana bosannya dia nunggu selama itu. Tapi sepertinya dia juga menyimak jalannya acara. Dia memuji komik-komik lokal, terutama Meme Daeng, yang dia nggak ngerti ngomong apaan dari awal sampai akhir (karena bahasa upin-ipin full version), tapi katanya dia menilai dari pecahnya ketawa penonton. Dan juga dari persona Meme Daeng sebagai ibu-ibu rumpi tukan ngomel, begitu luwes dan penuh percaya diri. Jarang ada komika cewe’ yang se-luwes itu, kata Abdur. Lah, jadi bahas Meme Daeng.

Abdur jebolan juara 3 SUCI season 4, komika yang terkenal dengan materi satir bernuansa protes dengan bumbu politik, malam itu juga melemparkan bit-bit nuansa tersebut. Semua juga tau, Abdur pendukung nomer satu saat pilpres, dan saya salut dengan sikap sportifnya. Abdur sempat menyenggol masalah kebijakan kenaikan harga BBM. Menurutnya, tidak kenaikan harga BBM tidak perlu terjadi kalau alasannya karena subsidi BBM tidak tepat sasaran. Polisi di Indonesia ini banyak, tugaskan saja dua polisi di tiap SPBU untuk memantau dan memastikan bahwa yang membeli BBM subsidi adalah oran yang berhak. Hmm, bener juga ya. Padahal saya juga penguna BBM subsidi L Nggak tau deh termasuk golongan berhak atau bukan, tapi kan...saya anak kos L *curhat*

Selain membahas yang berat-berat seperti itu, Abdur juga melemparkan bit-bit ringan seperti berat badan saya (lah, berat dong). Diantaranya, bit bioskop di papua cuma ada 4 (kalau nggak salah ingat), bit konser Agnes Monica yang sahut-sahutan dengan suara adzan, sampai yang paling saya ingat, bit alasan masuk Universitas Muhammadyah Malang dan latihan lift. Ngakak sekaligus miris, karena katanya itu true story :p Salut deh sama kaka Abdur yang sekarang study-nya sudah sampe S2, mantep!! Saya juga setuju dengan stetmen Abdur yang bilang kalau saat ini kita hidup di jaman membingungkan, dimana benar/salah itu sudah tidak jelas lagi batasnya.  Kemudian dia melanjutkan dengan bit lampu merah, dimana orang yang taat lampu merah malah di klaksonin orang lain dan dianggap bersalah.


Tiba di penghujung acara, ntah sudah jam berapa saat itu, tapi saya pulang dengan perasaan puas. Apalagi bisa took selfies with the guest starsss!
Bingung.. enyang mane enyang guest star??

bukan mbah dukun, abaikan jari bintang
Dan bonus foto sama kamil onte yang sekarang sudah tenar. Kasusnya sama seperti dulu di tahun 2013, doi yang minta foto.
Dapat popcorn berlebih karena pulang saat panitia mulai berkemas, iya, paling akhir.
P.S.
Ini seharusnya di post di bulan Januari. Semoga belum basi. #latepost.
Dan,....maaf.
Kali ini agak narsis.

12/03/15

Salah Jadwal

Kesalahan dalam melihat jadwal bisa menjadi pemicu atas masalah-masalah yang akan datang kemudian. Salah jadwal kendaraan, bikin kita terlambat sampai tempat tujuan, bahkan mengacaukan jadwal-jadwal selanjutnya. Salah jadwal piket kelas, bikin rugi karena mengerjakan kewajiban orang lain. Sampai salah jadwal Imsak, bikin kita harus bertindak bagaimanapun caranya untuk bertahan sampai maghrib, misalnya ngemil bakso sambil ngabuburit *lah!*

Ada suatu kejadian salah jadwal yang saya alami baru-baru ini, yang bikin KZL dan tengsin sekaligus, saya salah jadwal ujian!

Alkisah di suatu Jumat yang cerah, hari itu hari ke-empat ujian. Hari-hari sebelumnya jadwal ujian dimulai jam 15.00. Di kampus saya, semakin banyak jumlah semester anda, maka semakin sore lah jadwal ujian anda. Jadi hari itu saya sangat santai, bangun siang, nggak belajar karena kebetulan ujian hari itu bersifat open book. Bahkan saya baru mandi jam 13.00.

Tanpa firasat apapun, saya sempat mengganti Display Picture BBM dan chat sama seorang teman. Jam 14.00, saya berniat bergegas dengan gerakan slow motion karena mager-nya luar biasa. Tiba-tiba saya mendapati handphone dipenuhi BBM yang menanyakan saya dimana. WHAT? Kenapa nggak ujian. DOUBLE WHAT WHAT??

Oh my godness! Ternyata jadwal ujian hari itu jam 13.00. Beberapa teman menyarankan untuk menghadap dosen yang bersangkutan, yang kebetulan juga ketua panitia ujian. Nggak pake lama-lama lagi, saya pun langsung tancap gas ke kampus. Belum cukup penderitaan, sampai di kampus pun harus tahan di cengin teman-teman karena kejadian konyol ini. Sebelum bertemu dengan ibu dosen yang terkenal baik itu, saya berkonsultasi dulu dengan beberapa teman, apa yang harus saya katakan, jujur saja ataukah pake skenario mainstream : ban bocor di jalan raya yang tidak ada bengkel dan sekalinya nemu bengkel ternyata harus antre. Beberapa menyarankan opsi kedua, tapi lebih banyak yang memilih opsi kedua. Sebenarnya, dengan tampang saya yang polos ini, dosen bisa percaya-percaya aja dengan alasan saya. Sudah pernah terbukti soalnya, hehehe. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk jujur saja. Jujur tuh memang menyakitkan. *lho?*

Setelah ngumpulin nyali, saya pun masuk ke ruang dosen dan mendapati ruangan kosong kayak hati saya. Yaiyalahhh, ternyata sudah sore. Saya pun pulang dengan perasaan ketar ketir tak menentu. Saya punya pikiran terburuk, tidak bisa ikut ujian dan dapat nilai E. Dan untuk mengulang mata kuliah ini artinya harus menunggu di semester ganjil, artinya itu saat saya di semester 9. Mau lulus kapannn?

Akhirnya saya mengirimkan SMS ke ibu dosen yang intinya memohon maaf dan menanyakan bagaimana nasib saya. Tidak dibalas. Saya SMS lagi, dan di balas : "terlambat 15 menit saja tidak ada toleransi". DEG!. Ibu yang terkenal baik ini, balas sms saya seperti itu! Aihmatekkk. Nggak lama kemudian lanjutan sms tadi masuk, ternyata tadi belum selesai. "Senin temui saya untuk membicarakan hal ini". Ah, setidaknya masih ada yang bisa dibicarakan.

Singkat cerita, di hari Senin saya temui beliau. Walaupun harus merelakan diri ini kena omel, tapi pada akhirnya saya diperbolehkan ujian susulan saat itu juga di ruang dosen, dengan catatan : waktu ujian dikurangi 25 menit dan harus membuat makalah. Good. Jadi punya waktu 50 menit buat mengisi sekitar 8 soal kasus yang jawabannya panjang-panjang. Makasih, Bu. 

Ujian selesai dan beberapa minggu kemudian nilainya keluar. Emang baiknya Ibu dosen, ujian saya dapat 80. Ehehehehe.

Ternyata kisah ini belumlah selesai! Suatu hari saya mendapati nama saya masuk dalam 25 nama mahasiswa yang wajib menghadiri suatu pertemuan, tertanda panitia ujian. Wah, sudah pasti ini gara-gara si salah jadwal kampret nih. Dan ternyata benar, pertemuan itu untuk para "pelanggar" ujian. Salah jadwal dimasukkin kategori pelanggaran? Yang bener aje? Jenis-jenis pelanggaran yang terjadi itu ada mencontek, tidak membawa kelengkapan ujian, dan salah jadwal. Sampai di poin salah jadwal, apesnya hanya di poin ini yang pelakunya diminta untuk angkat tangan dan memberikan penjelasan. Double apesnya, pelaku salah jadwal yang hadir di pertemuan cuma saya seorang. Kampret kalian. Hasil dari pertemuan itu intinya saya mendapatkan SP atas perbuatan saya itu. SP. Surat Peringatan. Apa-apaan ini! 

Belum berhenti sampai SP, keesokan harinya nama-nama dan jenis pelanggaran saat ujian dipajang di mading informasi. Terimakasih banyak lho, bapak dan ibu. Jera saya.

Oleh karena itu, teman-teman pembaca semuanya, hendaklah kalian lebih teliti dalam melihat jadwal, jika tidak ingin keapesan-keapesan berikutnya datang menghampiri anda.

Uhlalaa~
Semester akhir saya pun diwarnai dengan kisah salah jadwal ujian yang berujung pada SP.


Only The Beginning

Setelah sebulan lebih tidak menyapa, kini saya hadir dengan status baru : Sudah seminar proposal skripsi. Tapi masih jombloh. *UHUK KODE KERAS*

Ya, jadi itulah mengapa saya agak kudis alias kurang disiplin buat ngisi blog (padahal mah dari dulu kudis). Sebulan terakhir ini disibukkan dengan persiapan diri buat seminar proposal skripsi, yang selama ini kalau dengar kalimatnya itu berasa nonton maraton sekuel Insidious pas jam 00.00 sendirian di rumah yang letaknya di tengah-tengah tanah pemakaman. Horror, bro.

Saking sebegitu horror-nya, saya sudah dua kali mengulur-ulur waktu buat daftar seminar. DUA KALI. Pengennya sih maju bulan Desember, terus mundur jadi Januari, dan akhirnya terealisasi di bulan Februari. *yeeeeee!*

That's why, valentine's day kemarin nggak bisa ngerayain soalnya terlalu sibuk persiapan buat seminar sih *YAKELEUS*

Pengajuan berkas untuk pendaftaran dimulai tanggal 16 Feb dan sampai batasnya di tanggal 18 Feb pun saya masih belum bisa melengkapi. Kendala disana-sini. Dengan jurus wajah memelas, akhirnya berkas-berkas bisa juga dilengkapi di tanggal 20-nya, walaupun sebagai imbasnya harus merelakan nama saya yang indah ini dilingkar-lingkarin di mading informasi karena berkas yang belum lengkap. It's ok wae maz.

Malam sebelum seminar, teman-teman team saya datang untuk menginap sambil simulasi seminar saya. Saya presentasi dan mereka menjadi dosen pembimbing dan penguji. Ya walaupun sulit menganggap mereka itu dosen yang bermartabat dan berwibawa, tapi simulasi itu sedikit banyak bisa memberikan gambaran pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul namun tidak tenggelam *ngomongin apa sih*.

Jam 00.00, harusnya tidur ya karena besoknya itu hari penting! Tapi yang terjadi malah "pillow talk" sampai jam 02.00, ......dan....temanya.....malam itu......tentang.....ta'aruf. Sungguh tema yang sangat relate dengan proposal skripsi saya.

Rabu, 20 Februari 2015. SHOW TIME!!!
Jadwal saya itu jam 14.30, tapi saya sudah duduk manis-asem-asin di kampus sekitar jam 11.00. Ada untungnya juga datang (terlalu) awal, karena siang itu ternyata hujan deras. Perasaan menjelang detik-detik seminar proposal itu : nungguin satu jam berasa seminggu, jadi lebih banyak diam dan nggak masuk ke obrolan sekitar, jadi lebih religius, tiba-tiba nggak berasa lapar, dan ingin muntah. Sounds lebay but it was how I feel. Bukan tanpa alasan, seminar proposal inilah awal yang menentukan nasib skripsi selanjutnya. Tadinya berpikir bahwa dosen nggak bakalan tega buat nggak lolosin proposal, eh tapi ternyata ada juga yang benar-benar nggak lolos. Makanya jadi cemas abeeiss.

14.30 lewat-lewat dikit. Ah, akhirnya. Satu hal yang membuat cemas di awal adalah takut salah nyebut nama dan gelar dosen yang berbeda-beda namun tetap satu jua itu. Tapi ternyata kecemasan saya nggak terjadi. Justru terjadi hal lain yang tak dicemaskan sebelumnya, slide-nya macet saat presentasi! Wogh!! Untunglah tak berlangsung lama. Seperti para leluhur bilang, ternyata rasa gugup cuma sampai bagian presentasi di saat awal, selebihnya rileeeks kayak di Maldives.

Setelah 10 menit presentasi, lanjut ke sesi pertanyaan oleh dua pembimbing dan dua penguji. Waini. Part ini juga terasa rileks, menjawab apa yang saya tau, dan tau-tauin apa yang saya jawab alias sotoy huehehe. Kembali gugup saat nggak bisa jawab, but it's okay, they won't eat you, selama itu tidak begitu crusial, palingan cuma disuruh lebih banyak baca lagi.

Sooo, 1 jam telah berlalu dan saatnya.......decision! jeng jeng jeng jeeeeng

Hasilnya, Alhamdulillah proposal diterima dan bisa melanjutkan skripsi, dengan syarat revisi maksimal dua minggu setelah seminar (11/3). *yeeeeee*

Tapi saya menyesal karena terlalu terlena selepas seminar, akhirnya lagi-lagi hampir aja nggak bisa selesaikan revisi tepat waktu.

Perasaan lega usai seminar sifatnya hanyalah sementara, seperti hidup ini. Karena akhirnya tersadar bahwa perjalanan meraih toga masih sungguhhh jauh dengan kendala disana dan disini. Jiwa, raga, materi, semua harus serba siap! Seminar proposal is only the beginning.

WISUDA BULAN JULI, AMIN! :*

10/01/15

Stand By Me Doraemon

Siapa tak kenal Doraemon, robot kucing berkantong ajaib yang datang dari masa depan. Dulu waktu jaman-jaman masih imut dan polos, tiap hari Minggu nggak pernah ketinggalan nonton serial Doraemon ini di RCTI jam 7.30 pagi. Semakin besar udah semakin jarang nonton, bukan karena nggak suka, tapi karena semakin.....sulit bangun pagi...emm.
Stand By Me Doraemon

Serial Doraemon yang setia selama puluhan tahun menceriakan Minggu pagi anak-anak ini pun akhirnya harus berakhir. Episode terakhir Doraemon difilmkan dengan judul "Stand By Me Doraemon (Tetaplah Bersamaku Doraemon)". Dari judulnya aja aku udah nangkep kalau film ini temanya perpisahan dan pastinya akan bersuasana sedih. Aku yang paling nggak tahan dengan tema perpisahan, sudah siap sedia dengan segumpal tissue sebelum nonton film ini.

Awal film menceritakan tentang pertemuan pertama kali antara Nobita dan Doraemon (yang selama ini kayaknya nggak pernah diceritain di serialnya). Nobita adalah anak yang pemalas, nilai-nilai ujian di sekolahnya selalu hancur, sering di-bully, dan terobsesi dengan Shizuka, teman ceweknya. Karena sifatnya ini, kehidupan Nobita di masa depan pun menyedihkan, dia terlibat hutang dan menyusahkan keluarga dan keturunannya. Maka dari itu, keturunan Nobita generasi keempat (namanya Soby) datang dari masa depan. Ia berniat mengubah nasib Nobita di masa kini agar dirinya tidak kesulitan di masa depan. Soby membawa serta Doraemon yang ditugaskan untuk membantu Nobita. Doraemon diprogram untuk tidak dapat kembali ke masa depan lagi sebelum berhasil membuat Nobita bahagia. Program diaktifkan dengan menekan hidung Doraemon (barutau, ternyata itu fungsi hidungnya). 

Meskipun awalnya ogah-ogahan, Doraemon menemani dan membantu hari-hari Nobita dengan alat-alat ajaib yang dikeluarkan dari kantong ajaibnya. Mulai dari urusan sekolah, urusan perkelahian dengan Giant dan Suneo, sampai urusan Shizuka. Tapi karena keseringan dibantu, Nobita jadi "ngelunjak" dan pengen segalanya serba instan. Peristiwa yang jadi titik baliknya yaitu saat Nobita memaksa Doraemon untuk mengeluarkan alat yang dapat membuat Shizuka menyukainya. Tapi karena ada kesalahan, Shizuka justru tergila-gila sama Dekhisugi. Saat Shizuka menyatakan perasaannya kepada Dekhisugi, dia menjawab kira-kira begini "Aku juga menyukaimu, tapi aku tak ingin bergantung pada alat". Boom! Nobita pun akhirnya sadar bahwa perasaan nggak bisa dipaksakan. Sejak saat itu ia berusaha untuk nggak bergantung pada alatnya Doraemon. Ia belajar mati-matian untuk ujian, demi membuat Shizuka kagum. Tapi ternyata ia masih juga gagal dan akhirnya hampir menyerah dan berhenti untuk memperjuangkan Shizuka. Doraemon pun berusaha untuk menyemangati Nobita, ia mengatakan Nobita masih bisa mengubah masa depannya jika mau berusaha. Hingga akhirnya Nobita berhasil, ia "mengintip" masa depannya (Nobita dan Shizuka menikah!) dan merasa amat sangat bahagia. Pada titik itu lah misi yang diprogramkan pada Doraemon selesai. Doraemon akan segera kembali ke masa depan dan meninggalkan Nobita untuk selama-lamanya.. 

fiuhh..

Kalau yang ku dengar dari teman-teman dan juga beberapa review di internet, rata-rata dari mereka mengatakan film ini mengecewakan. Entah mengecewakan dari segi mana, tapi untuk sisi sedihnya sih menurutku dapet banget. Aku pribadi ngerasa sedih sesedih-sedihnya sepanjang nonton film ini. Taraf sedihnya tuh hampir setara dengan film Hachiko, yang juga tentang perpisahan (yang ku nobatkan sebagai the saddest movie ever disini). Berawal dari perjuangan Nobita membuat Shizuka kagum aja udah bikin sedih, mungkin ini faktor terbawa perasaan. Perasaan menyukai seseorang dalam diam dan tak tergapai, halah. Ditambah lagi keputusasaan Nobita. Lalu peristiwa perpisahan Nobita dengan Doraemon. Ah, air mata ini tak dapat terbendung lagi.

Kalau dari segi cerita, kayaknya ini film bukan ditujukan buat anak-anak. Soalnya Nobita disini amat-sangat terobsesi dengan Shizuka sampe udah mikirin tentang pernikahan. Mungkin sasaran film ini adalah anak-anak jaman dulu, yang mana sekarang udah pada berumur. Ada juga review yang bilang ceritanya nggak masuk akal, Doraemon diprogram untuk nggak bisa kembali ke masa depan sebelum Nobita bahagia, tapi kok mereka bisa jalan-jalan ke masa depan? Ah, yaudah sihhh... 

Intinya, film ini pas banget kalau dimaksudkan sebagai episode terakhir. Episode perpisahan, ya jelas harus sedih lah. Tapi tenang, nggak melulu sedih sih, banyak humornya juga. Ditunjang dengan animasinya yang udah 3D, ekspresi-ekspresi yang lucu, suara, bahasa, serta intonasi bikin makin terasa humornya. Pesan terbesar dalam film ini yang kutangkap adalah : apapun yang kita lakukan saat ini, akan sangat menentukan masa depan kita. Buat yang masa kecilnya dibahagiakan oleh Doraemon tiap Minggu, this movie is worth to watch!

Sudahkah anda nonton Stand By Me Doraemon? :D

(P.S. : Maafkan aku karena nonton ini secara ilegal, salah sendiri nggak ada di XXI, cuma ada di blitzmegaplex. Udah tau disini cuma ada XXI, satu-satunya lagi, mahal lagi. lah jadi curhat)

(Spoiler : Happy ending, Alhamdulillah)

08/01/15

Relatif Tidak Disukai

Aku baru-baru ini menyadari sesuatu yang sesaat lagi akan kuceritakan kepadamu. Sesuatu ini terkadang amat mengganggu pikiran. Mulut ini diam, namun hati berteriak ingin berontak. Apa sih ah.

bisik bisik tetangga (sumber)
Jadi begini. Kita semua pasti sepakat bahwa setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tentu teman-temanmu pun karakternya berbeda-beda. Ada yang kalem ada juga ada-ada aja kelakuannya. Sayangnya, namanya juga hidup, kita nggak bisa maksain orang lain untuk suka sama kita. Pasti ada aja yang nggak suka. Hal yang bikin nggak suka bisa dari hal-hal remeh kayak cara bicara, cara jalan, sikap sampe hal-hal langka kayak kebiasaan nelan permen karet yang terbuat dari ban dalam bulldozer. Hehe. Macem-macem deh.

Nah, sesuatu yang baru kusadari adalah  ternyata sejak dulu aku berteman baik dengan orang-orang yang 'relatif tidak disukai' oleh orang kebanyakan. Kok bisa tau? Iya, jadi saat aku berteman dengan orang lain, mereka ini membicarakan betapa mereka tidak menyukai temanku yang 'relatif tidak disukai' ini dengan berbagai alasan. Mereka mungkin lupa kalau aku berteman baik dengannya, makanya woles aja pas cerita. Ataupun kalau ingat dan sengaja pengen tetap cerita, biasanya dibarengi dengan kalimat semacam, "eh iya lupa ada temennya disini". Saat itu aku cuma bisa diam, terus pergi. Rasanya campur aduk. Orang yang nggak punya masalah apa-apa dengan kita harus ngalamin omongan belakang punggung yang menyakitkan kayak gini. Suka nggak ngerti kenapa mereka segitu bencinya, apa sih salahnya? Sedih juga kalau dipikir-pikir, mungkin aku cocok berteman dengan orang yang 'relatif tidak disukai' karena aku termasuk dalam golongan itu. Siapa yang tau kan? :)

People always have something to say
Apapun yang kita lakukan, sebaik apapun bersikap, selalu ada celah buat jadi bahan komentar orang lain. Jadi ya siapin mental baja aja untuk bertahan hidup. Dunia ini keras bung! Kalo lembek mah onde onde! Tul nggak?!

Realistis

This gonna be the first post ever at tu tauzen en fiftiiiin *goyang bang jali*
sumber

Awal tahun gini sih mainstream-nya ngomongin resolusi. Apa itu resolusi? Re = pengulangan. Solusi = ya...solusi. Jadi resolusi adalah solusi yang diulang-ulang. #gagalpaham

Makin nambah umur, makin nggak berani mengharapkan yang tinggi-tinggi. Rasanya cukup yang realistis-realistis aja dan memungkinkan untuk digapai. Gak masalah kalau kamu punya harapan tinggi, asalkan kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk menuju kesana. Intinya sih, kalau aku sekarang udah nggak bisa lagi deh ngarep buat jadi the next asia's top model...hiks #muntahberjamaah

Jadi apa dong harapan realistis buat Tahun 2015 ini? Simpel aja sih, cuma pengen lulus kuliah, kerja dan berpenghasilan sendiri... Hidupku mainstream banget ya. Ntar kalau udah duitnya buat traveling ke seluruh pelosok tanah air (efek iri liat foto-foto traveling punya teman-teman). Tapi kalau traveling mungkin tidak di tahun ini. Mungkin tahun depan. Atau tahun depannya lagi. Bareng kamu~ Iya... Kamoeh. #wuek

Kalau kamu punya harapan yang lebih membahana dari punyaku? Atau sama seperti ku? Hmm.. mungkin kita jodoh.



All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

Your Number!

Categories

Who is "A"?

Foto saya
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hello, there! I'm a medical practitioner, hmm but not really... hahaha. It's a pleasure for me to get you here, visitors!

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

To get the latest update of me and my works

>> <<