A-Blog!

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

18/11/14

Saya Butuh Angkot!



Hari ini hari pertama bbm naik, premium yang tadinya 6500/lt jadi 8500, dan solar yang tadinya 5500/lt jadi 7500/lt. Lumayan gede juga sih kalau diakumulasikan, apalagi buat mahasiswa tak berpenghasilan kayak sayah...
sumber gambar

Saya sih menaruh kepercayaan cukup tinggi kepada presiden dan jajarannya, keputusan ini tentunya udah melalui berbagai pertimbangan, and well, bbm akhirnya memang harus naik meskipun harga minyak dunia lagi turun. Mungkin si minyak terlalu sering ngikutin style Syahrini, jadinya dia ketularan naik-turun chanthiikkk...

Kemarin malam setelah pengumuman resmi dari presiden, saya buru-buru ke pom bensin. Saya kira cuma saya aja yang kepikiran memanfaatkan momen beberapa jam sebelum kenaikan harga bbm ini, eh ternyata rame juga orang-orang pelit di dunia ini. Oh bukan, saya sih ngantre bensin bukan karena pelit sama dua ribu rupiah sih, sebenarnya saya cuma pengen jadi bagian dari peristiwa bersejarah aja...

Dari sumber yang saya pernah baca, salah satu alasan kenaikan harga bbm itu untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi, yang mana sekarang ini udah kayak ketombe, menyebar dengan brutal di tiap ruas jalan. Jadi orang mikir-mikir lagi deh kalo mau pake kendaraan pribadi, udah bbm mahal, macet pula. Mending naik kendaraan umum. Itu juga sebenarnya kalau kendaraan umumnya udah memadai..

Ngomong-ngomong soal angkot, nasib angkot di Kota Pontianak ini luar biasaaaa, menyedihkan. Angkot jadi barang langka disini. Sejauh mata memandang hanya ada motor, mobil, dan gerobak molen dan es tebu. Kemana angkot-angkot ini bersembunyi? Malahan saya lebih sering lihat angkutan antar kota dan antar negara. Beda banget dengan Bandung. Dulu selama 4 hari saya di Bandung, kemana-mana ya pake angkot. Rute-nya jelas dan gampang nemuinnya. Ketinggalan 1 angkot, datang 1000 angkot. Jalan kaki beberapa meter buat ke jalan raya/ ke tempat tujuan sih gak masalah... Biar sehat dan kurus juga gitu kan.

Angkot di Kota Pontianak itu kayaknya nggak pernah jadi hal yang dianggap masalah yang dipertimbangkan oleh Pemkot. Padahal nggak semua orang punya kendaraan pribadi. Atau justru orang jadi mau nggak mau beli kendaraan pribadi gara-gara nggak ada angkot. Mungkin Pemkot berpikir, Kota Pontianak masih aman dari kemacetan, jadi buat apa juga angkot. EMANGNYA MAU NUNGGU MACET DULU BARU DICARI SOLUSINYA?

Kebiasaan orang Indonesia emang gitu tuh, kalau udah ketiban sakit baru deh sibuk cari obatnya. Kalau udah terjadi kejahatan baru deh dibuat kebijakan dan hukumnya. Kalau udah paru-paru bolong karena rokok baru deh nyesel.. Bukannya mencegah dari awal agar itu tidak terjadi.

Angkot itu banyak gunanya. Kita bisa jadi lebih disiplin, berangkat lebih awal untuk bangsi waktu menunggu angkot. Kita jadi lebih sehat, olahraga rutin ngejar angkot dan jalan kaki ke jalan raya/tempat tujuan. Kita jadi lebih hemat, kalau dihitung-hitung emang naik angkot lebih murah sih. Kita jadi nggak capek, tinggal duduk aja berasa pake supir pribadi. Kita juga jadi nggak mubazir, nggak kayak mobil gede yang isinya cuma 1 orang. Terakhir, dengan naik angkot, kita juga turut membantu sang sopir angkot mempertahankan matapencahariannya.

Well, cuma bisa berharap sih suatu saat nanti Pemkot memperjelas nasib angkot-angkot disini. Bayangin angkot dengan kualitas yang baik, kuantitas yang banyak, dan rute yang jelas, yakin deh, nggak bakalan ada lagi pemandangan angkot kosong tak berpenumpang. Cukup hati ini aja yang kosong, Pak. Tolong, Pak, saya butuh angkot!!!

11/11/14

Ritual Pembuka

Asal tau saja, laptop ini sudah nyala dari setelah Isya tadi sampai sekarang jam 01.00. Ekspektasi : benerin beberapa tugas dan mengkaji literatur buat skripsi. Realita : laptopnya dianggurin. Karena tangan ini automatically ambil henpon lalu scroll naik turun cantik sampe batre habis. Kalo udah gitu, saatnya ngapelin laptop.

Sekarang giliran jari jemari yang automatically ngetik-ngetik cantik dan klik-klik cantik ke berbagai web address, sampailah jam segini hingga saya menyesal karena tidak melakukan apapun...

Bukan kali pertama hal kayak gini terjadi. Susah banget sinkronnya antara otak dan jari-jemari ini. Semua jadi terbengkalai. Sedih :(

Saya juga sih yang salah, sering memberi excuse ke diri sendiri. Macem-macem excuse, dari 'ntar deh belum mood', 'kan deadline masih jauh', 'besok aja kan besok libur', sampai 'ntar aja mblo kalo udah nggak jomblo'. Yah, lama dong :(

Pokoknya gitu deh, banyak waktu yang akhirnya terbuang sia-sia udah kayak rasa ini ke kamu, percuma. Kerjaan pun jadi nggak kelar-kelar, bahkan dimulai aja belum. 

Kalau bisa saya jabarkan, sebenarnya kejadian diatas itu adalah sebuah proses. Setelah saya menyepi dan bertapa ke Gua Elo-End selama 3 menit, saya pun akhirnya dapat menyimpulkan proses apa yang terjadi selama ini. Ini adalah sebuah pola proses pengerjaan tugas yang ternyata telah saya anut berabad-abad tanpa saya sadari. Tenang, jangan sedih, saya akan bagikan langkah-langkah proses ini kepada anda semua

Pertama, kita harus ngumpulin niat dulu. Ini yang paling penting. Niat itu harus kuat dan tak tergoyahkan ya, pokoknya nancep di pikiran dan hati. Waktu yang dibutuhkan untuk membangun niat ini mulai dari hitungan menit, jam bahkan hari. Misalnya, hari ini kita berniat, besok harus ngerjain tugas. Nah itu udah good start, bro and sis! Selain apa yang akan dikerjakan, dalam pembangunan niat kita juga harus mematok target kapan selesainya. Niat ini harus selalu diingat di step-step berikutnya. Kedua, setelah niat yang kuat, kumpulkan peralatan yang mendukung seperti laptop, atau daun pisang (just in case tugas kamu adalah membuat lemper). Kalau niat sudah kuat sih, step kedua ini tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 15 menit. Nyalakan laptopmu, dan buka gulungan daun pisang mu. Ketiga, biasanya dibutuhkan appetizer sebelum masuk ke main course. Jadi sebelum bergelut dengan tugasmu, adakanlah ritual pembuka terlebih dahulu, agar pikiran fresh. Sehingga nantinya dalam pengerjaan tugas akan terasa lebih ringan dan lancar. Tetap ingat langkah pertama ya! Jangan sampai kebablasan. Ritual pembuka ini bisa macem-macem, kalau saya sih dengarin lagu favorit sambil karaoke beberapa album musik lalu nonton film. Cek media sosial. Main game. Keempat, sampai deh di main course. Wah....ternyata sudah terlalu larut malam untuk ngerjain tugas. Begadang itu nggak baik bro buat kesehatan. Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya bro. Begadang boleh saja, asal ada temennya. Pokonya. tugas yang dikerjakan dengan keadaan tubuh yang lelah pun hasilnya tidak akan maksimal. Lebih baik istirahat saja dan lanjutkan besok bro.

Dan itulah siklus nasib tugas saya, every single day.
Sekarang saya lagi menikmati ritual pembuka. Sebentar lagi memasuki main course. Nggak ngerti saya daritadi ngetik apaan ini.

08/10/14

A Movie Review : ANNABELLE

Jika Anda pernah menonton film The Conjuring kemungkinan Anda akan penasaran untuk menyaksikan film ini. The Conjuring bercerita mengenai pasangan suami istri yang berprofesi sebagai ghost-hunter atau semacam cenayang yang telah menangani berbagai macam kasus hantu. The Conjuring diawali dengan kasus Annabelle yang telah terselesaikan dan mereka menyimpan boneka misterius itu di ruangan khusus barang-barang mistis yang mereka peroleh dari kasus yang mereka tangani. Annabelle dalam The Conjuring hanya sebatas itu. Maka pada film ini, awal mula Annabelle dikisahkan secara spesifik. 

http://www.beyondhollywood.com/uploads/2014/07/Annabelle-2014-Movie-Poster-750x1111.jpg



Mia dan John adalah sepasang suami istri yang baru saja pindah rumah. Mia sedang dalam keadaan hamil tua. Mereka rutin beribadah di gereja bersama tetangga sebelah rumah mereka, Mr dan Mrs Higgins. Mrs Higgins begitu antusias dengan kehamilan Mia karena mengingatkannya pada anaknya, Annabelle Higgins, yang pergi meninggalkan mereka tanpa alasan jelas sejak dua tahun lalu.

Mia memiliki hobi menjahit dan mengoleksi berbagai boneka. Suatu hari, John menghadiahi Mia sebuah boneka wanita berbusana pengantin dan berkepang dua. Mia sangat menyukai boneka tersebut dan meletakkannya diantara koleksi bonekanya yang lain. 

Suatu malam, Mia mendengar jeritan dari kediaman Higgins. John pergi memeriksanya dan ia mendapati Mr dan Mrs Higgins yang telah berlumuran darah ditangan anaknya sendiri, Annabelle dan kekasihnya. Mia segera menghubungi 911. Sesaat setelah itu, kekasih Annabelle tiba-tiba muncul dan menusuk perut bagian samping dari Mia. Beruntung polisi segera datang dan menembaknya sedangkan Annabelle bunuh diri. Annabelle meninggal sambil memeluk boneka hadiah dari John untuk Mia itu (mulai saat ini, sebut saja boneka Annabelle).

Semenjak itu,banyak kejadian tidak biasa yang menghampiri kehidupan Mia dan John. Puncaknya ketika terjadi kebakaran tidak wajar di rumah mereka, kemudian mulai saat itu Mia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah mereka. Mia dan John beserta anak mereka yang baru lahir, Leah, pindah ke sebuah apartemen. Mereka membawa serta seluruh koleksi boneka Mia, kecuali boneka Annabelle, John telah membuangnya sebelum pindah. Namun, boneka itu secara misterius kembali muncul ketika Mia sedang menyusun koleksi boneka nya di rak yang baru. Mia berpikir, kemungkinan boneka itu ikut terbawa saat mereka mengumpulkan barang-barang pasca kebakaran. Mia kemudian memutuskan untuk tetap menyimpannya karena boneka itu tetaplah merupakan hadiah dari John. 

Setelah pindah rumah, ternyata tetap saja ada kejadian aneh yang mereka alami. Hingga pada akhirnya mereka melibatkan Romo Perrez, seorang pastur di gereja tempat mereka beribadah, untuk turut mengatasi kasus yang menimpa mereka. Namun, justru sesuatu yang buruk terjadi pada Romo saat ia membawa boneka Annabelle untuk mengamankannya. Lalu sebenarnya ada apa dengan boneka tersebut? Apa hubungannya dengan Annabelle Higgins? Dan apa yang dia inginkan? Untuk bagian ini sebaiknya anda menyaksikan sendiri.

Secara keseluruhan, saya menilai film ini seperti tipikal film ber-genre horror pada umumnya. Suasana gelap dan sound mengejutkan menjadi andalan di film ini. Tidak terlalu spesial sebetulnya. Saya lebih menyukai Insidious dari segi jalan cerita, dan The Conjuring dari segi kaget-mengagetkan. Tapi film ini lumayan saya rekomendasikan untuk Anda yang sekedar mencari sensasi kaget dan memicu adrenalin sesaat. Saya cukup sering kaget saat menonton film ini, namun setelah itu tidak ada rasa ketakutan yang membekas. Adapun pesan yang terdapat dalam film ini : rajin-rajinlah beribadah, setidaknya itu yang saya tangkap.

Review ini bersifat sangat subjektif, saya pun menyadari itu. Saya tidak begitu menyukai genre horror, sekali lagi saya hanya mencari sensasinya. Saya lebih menyukai genre thriller, yang menurut saya, lebih masuk akal. Pada film thriller, segala sesuatu yang terjadi terdapat penjelasan yang masuk akal. Tidak seperti horror, tidak dapat dimengerti bagaimana mungkin mesin jahit dapat hidup sendiri, kompor dapat menyala sendiri, dan berbagai kejadian aneh lainnya. Dan biasanya thriller memiliki ending yang twist, berbeda dengan horror yang seringkali mudah ditebak. Ah, saya berharap dalam waktu dekat ada film sejenis Orphan.

Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam nama dan detail pada review ini, saya memang bukan reviewer dan pengingat yang baik. Silahkan menonton dan selamat terkejut! :)

23/09/14

Teruntuk : Kamu

Hai, apa kabarmu?
Tak terhitung berapa lama sudah aku tak melihat batang hidung itu,
Tak melihat tawa lepas itu, dan canda yang serius itu

Masih lekat di memori,
Ajakan yang kuanggap sebuah janji,
Tapi mungkin tak sengaja teringkari,
Tak apa, aku telah berhenti menanti

Ketika lambat laun terlupa
Namanya datang kembali menerpa
Mengulik rasa yang dulunya ada
Ah, segera tepis saja
Selalu percaya, ini tiada arti baginya

Hingga tiba di hari yang sama pula
Saat senja dihantam jutaan tetes dari langit jingga
Batang hidung itu terlihat olehku tak sengaja

Aku hanya butuh sepersekian detik
Sebab terbaca dari khasnya yang nyentrik
Ditemani dengung bising jalanan yang berisik
Ia tembus angin yang gemerisik
Dan aku hanya mampu merasakan angin yang terusik

Rasa yang begitu sederhana,
Lega melihatnya masih baik-baik saja,
Walau hanya merasakan anginnya,
Sudah cukup membuat jiwa ini bergetar semena-mena.

Tentang siapa dia,
Biarlah jadi rahasia
Biar Tuhanku dan aku yang menjaga
Yang lain hanya boleh sekadar menerka
Walau kuharap tak ada yang mendekati jawaban sebenarnya

Teruntuk: Kamu,
Semoga kau tak pernah tahu
:)

10/09/14

Tujuh Huruf Keramat

Memasuki tahun ke empat di bangku kuliah...

Gila yah, we are growing so fast!
Masih ingat banget rasanya jadi mahasiswa baru yang lugu nan polos (sampe sekarang masih lugu dan polos kok), rasanya kerempongan pertama kali ngerjain laporan praktikum sampe nginep, rasanya dapat IPK seleketep :(

Tahun pertama kuliah, ada perasaan salah jurusan, IPK menyedihkan
Tahun kedua kuliah, berusaha menerima dan menjalani apa adanya, IPK lumayan tidak menyedihkan
Tahun ketiga kuliah, memperhatikan gelagat teman yang makin serius, nyoba ikutan serius namun gagal, IPK lebih menyedihkan lagi
Tahun keempat, now I can't go anywhere, I have no choice, all I have to do : FACE IT.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK_18Y5XJBHhyl4gHfb7_cYbTiuQ7RtpUfPA2971Xc9Z0nB2sq57rFiyUcxjaZ4GmyKJjwGhQ97X9xcOn-k8c5_ZeNNkjoXbxbvvIvLHs4GjAbGe26SL7KiEZb6TGTkA36-1PqMAt9KtA/s1600/toga+diatas+buku+tebal2.jpg

Maka dengan ini saya nyatakeun, nekat untuk mengambil 7 huruf keramat itu (read: SKRIPSI) pada semester ini, untuk dapat diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pontianak, hari sembilan boelan sepoeloeh, 2014

02/09/14

OSPEK yang Kehilangan Makna

OSPEK - Orientasi dan Pengenalan Kampus

Masih belum basi ngebahas OSPEK di tahun 2014 selama konsep OSPEK di Indonesia masih jadul, norak, kampungan, minim makna, dan sarat bullying kayak begitu...

Kita mulai dari OSPEK yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Saya berkuliah di kampus yang terbilang baru untuk saat itu. Beruntung  OSPEK nya tidak sekejam kampus sebelah, entah karena masih muda jadi belum banyak referensi, atau memang mau dibuat beda. Tapi kata senior-senior dulu sih, OSPEK di kampus saya itu memang beda, karena lebih menekankan pada pengenalan kampus. Katanya lho ya...

Kenyataannya, tetap ada hal-hal kecil yang saya anggap sebetulnya tidak perlu. Seperti, pergi ke kampus pada masa OSPEK tidak boleh bawa kendaraan sendiri. WHY??? Saya masih belum tau tuh alasannya sampe sekarang. Ini menyulitkan bagi maba-maba yang hidup sebatang kara, mau ngerepotin siapa buat ngantar OSPEK di pagi buta kayak gitu? Terus yang ngantar cuma boleh sampai batas tertentu, entar mabanya diteriakin sama senior disuruh jalan jongkok dan lari ke kampus. Hadeh... Usul deh, gimana kalau senior-seniornya aja yang ngantar jemput maba... Kalau nggak mau, ya biarin dong maba bawa kendaraan sendiri. Rempong.

Ada lagi disuruh buat-buat name tag, meskipun di kampus saya itu name tag nya nggak ribet (cuma persegi panjang ditulis nama), tapi ukurannya kenapa harus segede itu dan dikalungin di leher, jadi berasa tahanan... Katanya biar senior kenal, tapi perlukah sebesar dan senorak itu? Apa nggak cukup pake name tag orang kantoran? Kalau urusan seragam OSPEK ya saya toleransi deh, toh dari TK-SMA kita terbiasa diseragamkan... Sekali lagi saya masih beruntung OSPEK di kampus ini, tugas yang diberikan nggak terlalu aneh-aneh, nggak disuruh bawa kacang ijo 1000butir, nggak juga disuruh kumpulin nyamuk jantan dan betina, seingat saya cuma bikin essay, ringkasan berita tengah malam, gitu-gitu aja. Tiap kesalahan pun dihargai PUSH UP atau punishment lainnya, lumayan deh yang jarang olahraga. Mereka tidak menyentuh fisik kami, tidak main fisik secara langsung, hanya verbal ataupun melalui punishment itu. Kalau tentang muatan sih, lumayan deh, maba dikasih materi-materi tentang kampus, cuma sayangnya itu hanya teori. Keluar dari ruangan udah lupa lagi :( Saya sungguh menyayangkan kenapa tidak ada tour kampus, namanya juga PENGENALAN KAMPUS. Kenalin dong, dimana ruangan ini dan itu, bagaimana sistem birokrasi kalau mau mengurus ini dan itu, bahkan kenalin juga satpam dan petugas kebersihan kampus kalau perlu. Saking butanya saya sama ruangan kampus, alhasil hari pertama kuliah saya muter-muter nanya sana-sini cari ruang kelas. Hadeh....

Kelar OSPEK fakultas, ada lagi yang namanya OSPEK jurusan, muatan kurang-lebih sama tapi lebih 'keras' dan intens. Kurang pinternya saya, tahun berikutnya malah mendaftar jadi panitia. Rencananya sih, bersama teman-teman lain, kita mau 'merubah sistem', ujung-ujungnya ya terikut arus sistem itu juga. Saya bukan senior sejati, ngeliat maba dimarah-marahin teman sendiri yang notabene 'panitia urusan marah-marah' malah jadi sedih bukannya senang.. *lol*

Intinya sih ya, menurut saya OSPEK yang ideal itu ya pengenalan segala aspek kampus kepada maba biar mereka nggak kagok pas udah masuk kuliah beneran. Dulu saya pernah baca artikel tentang OSPEK di negara mana gitu saya lupa, kegiatan OSPEK selama satu minggu namun bersifat pilihan bagi maba, resiko bagi yang nggak ikut ya mereka bisa ketinggalan. Isinya ya pengenalan kampus, tour kampus, seminar, terus acara keakraban gitu biar kompak dan saling kenal. Senior bertugas MENDAMPINGI. Junior justru akan respect dong dengan senior yang baik hati dan suka menolong?

Makanya, omong kosong lah kalau 'OSPEK' dianggap sebagai cara untuk membentuk karakter. Karakter apa? Karakter 'melakukan sesuatu karena paksaan dan takut dihukum senior'? Melatih kekompakan dan keakraban satu angkatan, karena kalau satu orang melakukan kesalahan, satu angkatan rata kena hukuman? Itu sih terjadi karena di bawah tekanan, bukan reaksi alam bawah sadar. Melatih respect ke yang lebih tua? Bukan respect, bukan segan, tapi takut... Plus KZL *lol*

Jangan main-main lho sama maba. Beberapa tahun lagi mereka yang naik dan megang Negara ini. Emang mau Indonesia Tercinta dipegang sama orang bermental kacung (tunduk, takut, patuh sama yang berkuasa)? Setdah kenapa jadi pake slogan Prabowo ini. Tapi ini bener lho..

OSPEK ala Indonesia ini nggak juga sepenuhnya salah, ada sih manfaatnya, tapi lebih banyak mudaratnya :( Maba keluaran OSPEK yang tahun depannya mendaftar jadi panitia, pasti punya benih-benih ingin balas dendam. Kalau saya nggak gitu lho ya , nggak ngaku.. Contohnya teman saya dari kampus sebelah, menjadi maba keluaran OSPEK yang sadis, kemudian tahun depannya OSPEK tidak sesadis di tahunnya dia. Bukannya bangga, dia justru kecewa, karena maba tidak merasa apa yang mereka rasakan dulu.. Tuh kan, jiwa kemanusiaan udah tertutupi dengan yang namanya dendam dan semangat ngerjain...

Jangan sok-sok militer deh,apa sih hubungan jurusan ekonomi, hukum, kesehatan, keguruan, dll dengan militer... Udah deh, untuk urusan yang satu ini bolehlah kita meniru negara lain, masih ada cara yang lebih smooth, ngena dan menyenangkan untuk mencapai goal yang sama...

Jadi malu saya dulu pernah ngepost yang isinya berbanding terbalik dengan ini... (--_--)v

26/08/14

Sepenggal Kisah KKL

Akhir Mei sampai awal Juni lalu, aku berkesempatan pergi “liburan berkedok KKL” ke Jakarta-Bandung. Lima hari pertama full diisi kegiatan KKL, yaitu : hotel-kunjungan 1-makan siang-kunjungan 2-makan malam-hotel. Hari berikutnya adalah KKL extension alias “KKL” nambah-nambah sendiri. Mulai dari situlah pola hidup dan kebiasaan di 5 hari pertama itu berubah. Setelah 5 hari itu, kita terbagi menjadi kelompok-kelompok dengan tujuan “liburan” yang beda, ada yang balik Jakarta, stay di Bandung, bahkan ada yang nyasarnya kejauhan sampe Jogja dan Bali. Terpaksa kita berpencar, dan survival pun dimulai karena pihak kampus udah nggak ada urusan dengan kita. Nggak ada lagi yang namanya mandi air hangat di subuh yang dingin, kasur dan selimut cozy, tv kabel, sarapan-tinggal-pilih, makanan-tinggal-dimakan, transportasi-tinggal-naik. Aku dan beberapa temanku memilih stay di Bandung. Kita pun menggelandang :D

Beruntung travel dari kampus mau nganterin kita ke penginapan ala survival yang udah kami pesan sebelumnya. Penginapan sederhana –sangat sederhana, bukan hotel- yang letaknya ternyata strategis, ke Gedung Sate aja jalan kaki 5 menit (katanya, kenyataannya sih 15 menitan, mungkin karena kita jalan pake efek slow motion). 

Namanya Wisma PU di Jalan Riau, satu kamar ada 4 bed, dan seingatku tarifnya sekitar 40ribuan/malam/orang. Fasilitasnya ya worth it lah dengan harganya. Buatku pribadi sungguh bukan masalah besar kalau harus mandi pagi tanpa air hangat (walaupun dinginnya emang ampun-ampunan!), TV bukan TV kabel, tanpa AC, kamar mandi diluar kamar, sungguh, no problem! Karena kita disitu cuma numpang istirahat setelah seharian melanglangbuana, mau tidur beralaskan tikar dan berlangitkan bintang pun akan tetap nyenyak saking capeknya (yakeleus).

Kami stay di Bandung ini selama 4 hari. Satupun di antara kami tidak ada yang ngerti jalanan Bandung, kemana-mana modal sebongkah nekat dan segenggam uang ribuan buat naik angkot. Rencananya sih pengen explore Bandung mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, sampe wisata alamnya. Tapiiii… ternyata wisata belanjanya lebih menggiurkan. Entah berapa kali bolak-balik Cihampelas Walk (CiWalk), pasar baru, BTS, dan Paris Van Java (disini mah wisata mata aja), sampe hapal sama rute angkot. Lagipula, lokasi pusat Kota Bandung dengan lokasi wisata-wisata alam itu ternyata jauuuuuhhh bener, selain bingung mau naik apa, bingung juga gimana ngatur budget biar bisa survive setidaknya bersisa untuk bayar airport tax buat pulang (sedih ya).

Tapi jangan sedih, jangan pula meragukan jiwa gelandang kami. Dari awal perencanaan ke Bandung, kita udah ngebayangin sebuah wisata alam yang kalo di foto itu bagaikan negri di awan putih. Dengan tekad yang kuat, usaha yang giat (usaha cari transport murah dan maksain teman yang ada di tempat lain buat ikutan biar tambah murah), di H-1 kepulangan kami, akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di Kawah Putih Ciwidey, Bandung! *yeeeeeeee*
Namun kalian perlu tau kisah dibalik perjalanan yang hampir memakan waktu sekitar dua jam itu. Jam 7 pagi kami udah siap (bayangin mandi dengan air nyaris beku pagi-pagi gitu gimana rasanyaaa), dan transportasi yang kami gunakan adalaaahh : angkot charteran,secara kita angkot lovers. Geng-geng lain ke Kawah Putih dengan travel 600ribuan/mobil dengan muatan hanya 9 orang, sedangkan kita charter angkot 400ribu ber sebelas orang!!! (menang banyak dong). Tapi ternyata jalan dari Bandung ke Kawah Putih cukup terjal, secara Ciwidey itu di atas bukit, kita harus tahan-tahan badan biar nggak keikut gerakan angkot yang berlenggak-lenggok ngikutin kelokan jalan. Semakin keatas, kita disambut dengan pemandangan yang bikin mata adeeeem bener, hamparan perkebunan teh, strawberry, blackberry, dan berry-berry lainnya. Suhunya juga semakin sejuk, berasa di bioskop. Sayangnya, sayang banget malah, aku kurang bisa menikmati pemandangan alam yang maha keren ini karena kepala yang udah pusing dan perut yang udah mual. Sepanjang jalan cuma berdoa dalam hati : “jangan muntah disini….

Akhirnya sampai juga di gerbang selamat datang Kawah Putih Ciwidey. Lega banget rasanya. Turun dari angkot buru-buru ke toilet : muntah. Alhamdulillah, kapan lagi muntah di Ciwidey. Setelah itu rasa yang nggak enak daritadi tiba-tiba hilang saking excited-nya. Baru masuk kawasan udah disamperin sama penjual-penjual stroberi, blackberry dan semacamnya. Harganya murahhhh banget, 3 kali lipat lebih murah daripada di Pontianak, satu mika besar stroberi yang baru dipanen, segar, gede-gede, dijual dengan harga 10ribu. Ya kita kalap lah!! Setelah borong berry-berry-an, kita isi perut dulu. Mie rebus yang kupesan cepat banget dinginnya, dan air mineral biasa tiba-tiba berasa air dari kulkas! Jadi rada norak nih, terbiasa hidup di lingkungan ‘panas bedengkang’ sih.

Ternyata lokasi puncak Kawah Putihnya itu masih jauh. Kalau pakai mobil pribadi, tarifnya 300ribu/mobil. Kalau pakai kendaraan yang dikelola tempat wisata (ontang-anting) itu sekitar 23ribu/orang sudah termasuk tiket masuk kawasan. Pinter nih pengelolanya, ya jelaslah orang-orang lebih pilih ontang-anting, selain lebih murah, sensasinya itu looohh… I was the lucky one, duduk paling pinggir, pegangan seadanya, jalanan berkelak-kelok dan ontang-antingnya ngebut banget... Jadilah kami membentuk ikatan kuat antar siku seperti sedang mengelilingi api unggun pramuka, supaya yang paling pinggir nggak jatoh..

ini loh ontang anting, sumber
Oh, finally, sampai juga di puncak Kawah Putih Ciwidey!!! We were soooooo excited. 
hampir sampe nih
Tadaaa!
Tiba-tiba teringat film “Heart” lalu kami seolah-olah berada di dalamnya, menjelma menjadi sosok Farel, Luna, dan Rachel. Pemandangan Kawah Putih ini cantiikkk banget, tapi bau belerangnya sangat menyengat jadi kita nggak boleh terlalu lama disitu. Jadi, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kita abadikan momen di berbagai sudut dengan berbagai gaya sampai akhirnya mati gaya.


Lalu kita duduk-duduk menikmati pemandangan dan sisa waktu sambil nyemil stroberi yang tadi. Rasanya masih pengen berlama-lama, tapi kita harus cepat pulang karena perjalanan jauh dan besoknya udah harus pulang ke Pontianak. At that time I said “I’m in love with this place”. Semoga ntar bisa balik lagi kesitu.
 
Di perjalanan pulang, rasa nggak enak yang tadi nggak muncul lagi, jadi bisa menikmati pemandangan yang tak ternikmati pada saat berangkat. Yang jadi pikiran saat itu adalah gimana caranya agar stroberi-stroberi ini tetap aman dan nggak busuk sampai di Pontianak?

Ini adalah cerita “KKL” chapter Kawah Putih, sebetulnya banyak chapter-chapter lain tapi sampai saat ini hanya tersimpan di otak aja. Kawah Putih adalah salah satu yang paling berkesan bagiku, mengingat perjuangan dan hampir hopeless-nya kami saat itu. Semoga di lain waktu chapter-chapter lain itu bisa ikutan mejeng disini.

Anyways, stroberi-stroberi itu tiba dengan keadaan benyek dan hampir busuk dengan sukses di Pontianak. I was so sad karena itu rencananya buat oleh-oleh, tapi akhirnya diikhlasin aja dan dibuat jus-hampir-busuk. Delicious so!

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

Your Number!

Categories

Who is "A"?

Foto saya
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hello, there! I'm a medical practitioner, hmm but not really... hahaha. It's a pleasure for me to get you here, visitors!

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

To get the latest update of me and my works

>> <<