A-Blog!

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

23/09/14

Teruntuk : Kamu

Hai, apa kabarmu?
Tak terhitung berapa lama sudah aku tak melihat batang hidung itu,
Tak melihat tawa lepas itu, dan canda yang serius itu

Masih lekat di memori,
Ajakan yang kuanggap sebuah janji,
Tapi mungkin tak sengaja teringkari,
Tak apa, aku telah berhenti menanti

Ketika lambat laun terlupa
Namanya datang kembali menerpa
Mengulik rasa yang dulunya ada
Ah, segera tepis saja
Selalu percaya, ini tiada arti baginya

Hingga tiba di hari yang sama pula
Saat senja dihantam jutaan tetes dari langit jingga
Batang hidung itu terlihat olehku tak sengaja

Aku hanya butuh sepersekian detik
Sebab terbaca dari khasnya yang nyentrik
Ditemani dengung bising jalanan yang berisik
Ia tembus angin yang gemerisik
Dan aku hanya mampu merasakan angin yang terusik

Rasa yang begitu sederhana,
Lega melihatnya masih baik-baik saja,
Walau hanya merasakan anginnya,
Sudah cukup membuat jiwa ini bergetar semena-mena.

Tentang siapa dia,
Biarlah jadi rahasia
Biar Tuhanku dan aku yang menjaga
Yang lain hanya boleh sekadar menerka
Walau kuharap tak ada yang mendekati jawaban sebenarnya

Teruntuk: Kamu,
Semoga kau tak pernah tahu
:)

10/09/14

Tujuh Huruf Keramat

Memasuki tahun ke empat di bangku kuliah...

Gila yah, we are growing so fast!
Masih ingat banget rasanya jadi mahasiswa baru yang lugu nan polos (sampe sekarang masih lugu dan polos kok), rasanya kerempongan pertama kali ngerjain laporan praktikum sampe nginep, rasanya dapat IPK seleketep :(

Tahun pertama kuliah, ada perasaan salah jurusan, IPK menyedihkan
Tahun kedua kuliah, berusaha menerima dan menjalani apa adanya, IPK lumayan tidak menyedihkan
Tahun ketiga kuliah, memperhatikan gelagat teman yang makin serius, nyoba ikutan serius namun gagal, IPK lebih menyedihkan lagi
Tahun keempat, now I can't go anywhere, I have no choice, all I have to do : FACE IT.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK_18Y5XJBHhyl4gHfb7_cYbTiuQ7RtpUfPA2971Xc9Z0nB2sq57rFiyUcxjaZ4GmyKJjwGhQ97X9xcOn-k8c5_ZeNNkjoXbxbvvIvLHs4GjAbGe26SL7KiEZb6TGTkA36-1PqMAt9KtA/s1600/toga+diatas+buku+tebal2.jpg

Maka dengan ini saya nyatakeun, nekat untuk mengambil 7 huruf keramat itu (read: SKRIPSI) pada semester ini, untuk dapat diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pontianak, hari sembilan boelan sepoeloeh, 2014

02/09/14

OSPEK yang Kehilangan Makna

OSPEK - Orientasi dan Pengenalan Kampus

Masih belum basi ngebahas OSPEK di tahun 2014 selama konsep OSPEK di Indonesia masih jadul, norak, kampungan, minim makna, dan sarat bullying kayak begitu...

Kita mulai dari OSPEK yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Saya berkuliah di kampus yang terbilang baru untuk saat itu. Beruntung  OSPEK nya tidak sekejam kampus sebelah, entah karena masih muda jadi belum banyak referensi, atau memang mau dibuat beda. Tapi kata senior-senior dulu sih, OSPEK di kampus saya itu memang beda, karena lebih menekankan pada pengenalan kampus. Katanya lho ya...

Kenyataannya, tetap ada hal-hal kecil yang saya anggap sebetulnya tidak perlu. Seperti, pergi ke kampus pada masa OSPEK tidak boleh bawa kendaraan sendiri. WHY??? Saya masih belum tau tuh alasannya sampe sekarang. Ini menyulitkan bagi maba-maba yang hidup sebatang kara, mau ngerepotin siapa buat ngantar OSPEK di pagi buta kayak gitu? Terus yang ngantar cuma boleh sampai batas tertentu, entar mabanya diteriakin sama senior disuruh jalan jongkok dan lari ke kampus. Hadeh... Usul deh, gimana kalau senior-seniornya aja yang ngantar jemput maba... Kalau nggak mau, ya biarin dong maba bawa kendaraan sendiri. Rempong.

Ada lagi disuruh buat-buat name tag, meskipun di kampus saya itu name tag nya nggak ribet (cuma persegi panjang ditulis nama), tapi ukurannya kenapa harus segede itu dan dikalungin di leher, jadi berasa tahanan... Katanya biar senior kenal, tapi perlukah sebesar dan senorak itu? Apa nggak cukup pake name tag orang kantoran? Kalau urusan seragam OSPEK ya saya toleransi deh, toh dari TK-SMA kita terbiasa diseragamkan... Sekali lagi saya masih beruntung OSPEK di kampus ini, tugas yang diberikan nggak terlalu aneh-aneh, nggak disuruh bawa kacang ijo 1000butir, nggak juga disuruh kumpulin nyamuk jantan dan betina, seingat saya cuma bikin essay, ringkasan berita tengah malam, gitu-gitu aja. Tiap kesalahan pun dihargai PUSH UP atau punishment lainnya, lumayan deh yang jarang olahraga. Mereka tidak menyentuh fisik kami, tidak main fisik secara langsung, hanya verbal ataupun melalui punishment itu. Kalau tentang muatan sih, lumayan deh, maba dikasih materi-materi tentang kampus, cuma sayangnya itu hanya teori. Keluar dari ruangan udah lupa lagi :( Saya sungguh menyayangkan kenapa tidak ada tour kampus, namanya juga PENGENALAN KAMPUS. Kenalin dong, dimana ruangan ini dan itu, bagaimana sistem birokrasi kalau mau mengurus ini dan itu, bahkan kenalin juga satpam dan petugas kebersihan kampus kalau perlu. Saking butanya saya sama ruangan kampus, alhasil hari pertama kuliah saya muter-muter nanya sana-sini cari ruang kelas. Hadeh....

Kelar OSPEK fakultas, ada lagi yang namanya OSPEK jurusan, muatan kurang-lebih sama tapi lebih 'keras' dan intens. Kurang pinternya saya, tahun berikutnya malah mendaftar jadi panitia. Rencananya sih, bersama teman-teman lain, kita mau 'merubah sistem', ujung-ujungnya ya terikut arus sistem itu juga. Saya bukan senior sejati, ngeliat maba dimarah-marahin teman sendiri yang notabene 'panitia urusan marah-marah' malah jadi sedih bukannya senang.. *lol*

Intinya sih ya, menurut saya OSPEK yang ideal itu ya pengenalan segala aspek kampus kepada maba biar mereka nggak kagok pas udah masuk kuliah beneran. Dulu saya pernah baca artikel tentang OSPEK di negara mana gitu saya lupa, kegiatan OSPEK selama satu minggu namun bersifat pilihan bagi maba, resiko bagi yang nggak ikut ya mereka bisa ketinggalan. Isinya ya pengenalan kampus, tour kampus, seminar, terus acara keakraban gitu biar kompak dan saling kenal. Senior bertugas MENDAMPINGI. Junior justru akan respect dong dengan senior yang baik hati dan suka menolong?

Makanya, omong kosong lah kalau 'OSPEK' dianggap sebagai cara untuk membentuk karakter. Karakter apa? Karakter 'melakukan sesuatu karena paksaan dan takut dihukum senior'? Melatih kekompakan dan keakraban satu angkatan, karena kalau satu orang melakukan kesalahan, satu angkatan rata kena hukuman? Itu sih terjadi karena di bawah tekanan, bukan reaksi alam bawah sadar. Melatih respect ke yang lebih tua? Bukan respect, bukan segan, tapi takut... Plus KZL *lol*

Jangan main-main lho sama maba. Beberapa tahun lagi mereka yang naik dan megang Negara ini. Emang mau Indonesia Tercinta dipegang sama orang bermental kacung (tunduk, takut, patuh sama yang berkuasa)? Setdah kenapa jadi pake slogan Prabowo ini. Tapi ini bener lho..

OSPEK ala Indonesia ini nggak juga sepenuhnya salah, ada sih manfaatnya, tapi lebih banyak mudaratnya :( Maba keluaran OSPEK yang tahun depannya mendaftar jadi panitia, pasti punya benih-benih ingin balas dendam. Kalau saya nggak gitu lho ya , nggak ngaku.. Contohnya teman saya dari kampus sebelah, menjadi maba keluaran OSPEK yang sadis, kemudian tahun depannya OSPEK tidak sesadis di tahunnya dia. Bukannya bangga, dia justru kecewa, karena maba tidak merasa apa yang mereka rasakan dulu.. Tuh kan, jiwa kemanusiaan udah tertutupi dengan yang namanya dendam dan semangat ngerjain...

Jangan sok-sok militer deh,apa sih hubungan jurusan ekonomi, hukum, kesehatan, keguruan, dll dengan militer... Udah deh, untuk urusan yang satu ini bolehlah kita meniru negara lain, masih ada cara yang lebih smooth, ngena dan menyenangkan untuk mencapai goal yang sama...

Jadi malu saya dulu pernah ngepost yang isinya berbanding terbalik dengan ini... (--_--)v

26/08/14

Sepenggal Kisah KKL

Akhir Mei sampai awal Juni lalu, aku berkesempatan pergi “liburan berkedok KKL” ke Jakarta-Bandung. Lima hari pertama full diisi kegiatan KKL, yaitu : hotel-kunjungan 1-makan siang-kunjungan 2-makan malam-hotel. Hari berikutnya adalah KKL extension alias “KKL” nambah-nambah sendiri. Mulai dari situlah pola hidup dan kebiasaan di 5 hari pertama itu berubah. Setelah 5 hari itu, kita terbagi menjadi kelompok-kelompok dengan tujuan “liburan” yang beda, ada yang balik Jakarta, stay di Bandung, bahkan ada yang nyasarnya kejauhan sampe Jogja dan Bali. Terpaksa kita berpencar, dan survival pun dimulai karena pihak kampus udah nggak ada urusan dengan kita. Nggak ada lagi yang namanya mandi air hangat di subuh yang dingin, kasur dan selimut cozy, tv kabel, sarapan-tinggal-pilih, makanan-tinggal-dimakan, transportasi-tinggal-naik. Aku dan beberapa temanku memilih stay di Bandung. Kita pun menggelandang :D

Beruntung travel dari kampus mau nganterin kita ke penginapan ala survival yang udah kami pesan sebelumnya. Penginapan sederhana –sangat sederhana, bukan hotel- yang letaknya ternyata strategis, ke Gedung Sate aja jalan kaki 5 menit (katanya, kenyataannya sih 15 menitan, mungkin karena kita jalan pake efek slow motion). 

Namanya Wisma PU di Jalan Riau, satu kamar ada 4 bed, dan seingatku tarifnya sekitar 40ribuan/malam/orang. Fasilitasnya ya worth it lah dengan harganya. Buatku pribadi sungguh bukan masalah besar kalau harus mandi pagi tanpa air hangat (walaupun dinginnya emang ampun-ampunan!), TV bukan TV kabel, tanpa AC, kamar mandi diluar kamar, sungguh, no problem! Karena kita disitu cuma numpang istirahat setelah seharian melanglangbuana, mau tidur beralaskan tikar dan berlangitkan bintang pun akan tetap nyenyak saking capeknya (yakeleus).

Kami stay di Bandung ini selama 4 hari. Satupun di antara kami tidak ada yang ngerti jalanan Bandung, kemana-mana modal sebongkah nekat dan segenggam uang ribuan buat naik angkot. Rencananya sih pengen explore Bandung mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, sampe wisata alamnya. Tapiiii… ternyata wisata belanjanya lebih menggiurkan. Entah berapa kali bolak-balik Cihampelas Walk (CiWalk), pasar baru, BTS, dan Paris Van Java (disini mah wisata mata aja), sampe hapal sama rute angkot. Lagipula, lokasi pusat Kota Bandung dengan lokasi wisata-wisata alam itu ternyata jauuuuuhhh bener, selain bingung mau naik apa, bingung juga gimana ngatur budget biar bisa survive setidaknya bersisa untuk bayar airport tax buat pulang (sedih ya).

Tapi jangan sedih, jangan pula meragukan jiwa gelandang kami. Dari awal perencanaan ke Bandung, kita udah ngebayangin sebuah wisata alam yang kalo di foto itu bagaikan negri di awan putih. Dengan tekad yang kuat, usaha yang giat (usaha cari transport murah dan maksain teman yang ada di tempat lain buat ikutan biar tambah murah), di H-1 kepulangan kami, akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di Kawah Putih Ciwidey, Bandung! *yeeeeeeee*
Namun kalian perlu tau kisah dibalik perjalanan yang hampir memakan waktu sekitar dua jam itu. Jam 7 pagi kami udah siap (bayangin mandi dengan air nyaris beku pagi-pagi gitu gimana rasanyaaa), dan transportasi yang kami gunakan adalaaahh : angkot charteran,secara kita angkot lovers. Geng-geng lain ke Kawah Putih dengan travel 600ribuan/mobil dengan muatan hanya 9 orang, sedangkan kita charter angkot 400ribu ber sebelas orang!!! (menang banyak dong). Tapi ternyata jalan dari Bandung ke Kawah Putih cukup terjal, secara Ciwidey itu di atas bukit, kita harus tahan-tahan badan biar nggak keikut gerakan angkot yang berlenggak-lenggok ngikutin kelokan jalan. Semakin keatas, kita disambut dengan pemandangan yang bikin mata adeeeem bener, hamparan perkebunan teh, strawberry, blackberry, dan berry-berry lainnya. Suhunya juga semakin sejuk, berasa di bioskop. Sayangnya, sayang banget malah, aku kurang bisa menikmati pemandangan alam yang maha keren ini karena kepala yang udah pusing dan perut yang udah mual. Sepanjang jalan cuma berdoa dalam hati : “jangan muntah disini….

Akhirnya sampai juga di gerbang selamat datang Kawah Putih Ciwidey. Lega banget rasanya. Turun dari angkot buru-buru ke toilet : muntah. Alhamdulillah, kapan lagi muntah di Ciwidey. Setelah itu rasa yang nggak enak daritadi tiba-tiba hilang saking excited-nya. Baru masuk kawasan udah disamperin sama penjual-penjual stroberi, blackberry dan semacamnya. Harganya murahhhh banget, 3 kali lipat lebih murah daripada di Pontianak, satu mika besar stroberi yang baru dipanen, segar, gede-gede, dijual dengan harga 10ribu. Ya kita kalap lah!! Setelah borong berry-berry-an, kita isi perut dulu. Mie rebus yang kupesan cepat banget dinginnya, dan air mineral biasa tiba-tiba berasa air dari kulkas! Jadi rada norak nih, terbiasa hidup di lingkungan ‘panas bedengkang’ sih.

Ternyata lokasi puncak Kawah Putihnya itu masih jauh. Kalau pakai mobil pribadi, tarifnya 300ribu/mobil. Kalau pakai kendaraan yang dikelola tempat wisata (ontang-anting) itu sekitar 23ribu/orang sudah termasuk tiket masuk kawasan. Pinter nih pengelolanya, ya jelaslah orang-orang lebih pilih ontang-anting, selain lebih murah, sensasinya itu looohh… I was the lucky one, duduk paling pinggir, pegangan seadanya, jalanan berkelak-kelok dan ontang-antingnya ngebut banget... Jadilah kami membentuk ikatan kuat antar siku seperti sedang mengelilingi api unggun pramuka, supaya yang paling pinggir nggak jatoh..

ini loh ontang anting, sumber
Oh, finally, sampai juga di puncak Kawah Putih Ciwidey!!! We were soooooo excited. 
hampir sampe nih
Tadaaa!
Tiba-tiba teringat film “Heart” lalu kami seolah-olah berada di dalamnya, menjelma menjadi sosok Farel, Luna, dan Rachel. Pemandangan Kawah Putih ini cantiikkk banget, tapi bau belerangnya sangat menyengat jadi kita nggak boleh terlalu lama disitu. Jadi, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kita abadikan momen di berbagai sudut dengan berbagai gaya sampai akhirnya mati gaya.


Lalu kita duduk-duduk menikmati pemandangan dan sisa waktu sambil nyemil stroberi yang tadi. Rasanya masih pengen berlama-lama, tapi kita harus cepat pulang karena perjalanan jauh dan besoknya udah harus pulang ke Pontianak. At that time I said “I’m in love with this place”. Semoga ntar bisa balik lagi kesitu.
 
Di perjalanan pulang, rasa nggak enak yang tadi nggak muncul lagi, jadi bisa menikmati pemandangan yang tak ternikmati pada saat berangkat. Yang jadi pikiran saat itu adalah gimana caranya agar stroberi-stroberi ini tetap aman dan nggak busuk sampai di Pontianak?

Ini adalah cerita “KKL” chapter Kawah Putih, sebetulnya banyak chapter-chapter lain tapi sampai saat ini hanya tersimpan di otak aja. Kawah Putih adalah salah satu yang paling berkesan bagiku, mengingat perjuangan dan hampir hopeless-nya kami saat itu. Semoga di lain waktu chapter-chapter lain itu bisa ikutan mejeng disini.

Anyways, stroberi-stroberi itu tiba dengan keadaan benyek dan hampir busuk dengan sukses di Pontianak. I was so sad karena itu rencananya buat oleh-oleh, tapi akhirnya diikhlasin aja dan dibuat jus-hampir-busuk. Delicious so!

23/08/14

Dini Hari

Sabtu. Dini hari. Bentar lagi malam minggu. Ok, gak penting.

Dari kemaren dan sepanjang hari ini udah niat pengen bikin postingan baru, tapi waktu udah pewe depan laptop kayak gini tiba-tiba nge-blank dan gak tau mau ngapain, gak tau mau ngetik apa, cerita apa, mikir apa, kamu siapa, aku siapa, ku hidup dengan siapa, ku tak tau kau siapa -_-

Jadi yaaa, udah segini aja.

:)

16/08/14

Muncul Lagi

Salamekooommm!!!
sehat ya semua ya pada sehat ya semua yaaaaa????!!!! #terdzawin

Kangen ngisi blog, meskipun yang baca kemungkinan orang yang nyasar-nyasar aja, tapi rasanya gimana gitu kalau ada postingan baru :D

Eh, gini-gini, blog ini cukup berpengaruh lho buat hidupku. Pertama, gara-gara review Mesakke Bangsaku, jadi ada yang nyasar kesini dan ngajakin gabung di Turun Tangan, akhirnya gabung deh sampe sekarang. Kedua, gara-gara review Berani Mengubah, aku dapat buku Nasional.Is.Me secara cuma cuma, dan ketiga, gara-gara review itu juga, jadi ada yang nawarin buat jadi kontributor sebuah media online.....yah.....walaupun sampe sekarang gak ada kabarnya #akurapopo. Artinya kan, kalo diseriusin, bisa jadi memberikan benefit yang lebih, ya kan ya kan ya kaaannnn?!! :D

Banyak banget momen-momen menarik yang nggak diabadikan disini sejak postingan terakhir. Sepertinya terlalu banyak dalih, mulai dari laptop yang agak somplak, sampai kegiatan-kegiatan sok sibuk, yang bikin seolah-olah nggak sempat buat sekadar say hello di sini, padahal sih, males aja udeeehhh....

Sekarang laptop udah bener, PKL juga udah mau kelar, dan hawa semester 7 juga udah mulai datang. Yah, semoga aku kuat melewati ini :'D Semoga aku, dan kamu, bisa terus berbagi cerita...

Astaga, 3 BULAN KEMANA AJA! :(

02/05/14

Tentang KKN di Pelosok Negri

KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah sebuah program dari kampus dengan sasaran mahasiswa tingkat akhir, dimana nantinya mahasiswa dari berbagai jurusan ini disebar ke wilayah-wilayah pedalaman. Tujuannya adalah sebagai wujud pengaplikasian teori yang selama ini telah didapatkan di kelas terhadap lingkungan yang NYATA, dalam hal ini adalah masyarakat.

Esensi dari KKN ini sesungguhnya adalah sebuah pengabdian masyarakat, sebab kita bekerja tanpa imbalan, tanpa upah. Nyatanya, kesadaran akan pengabdian ini tidak tumbuh dengan sendirinya di jiwa mahasiswa kebanyakan, melainkan melalui bentuk KKN yang bersifat wajib, dengan hasil evaluasi berupa nilai. Ya, memang bukan upah berupa materi, namun nilai, maka belum bisa dikatakan ini murni pengabdian. KKN ini sedang hangat dibicarakan di kampus saya, ada yang pro dan ada yang kontra. Saya disini mencoba melihat dari sudut pandang "pro", diluar dari "kemalasan" saya untuk bersusah-payah mengikuti program ini.

KKN dengan model seperti ini memang baru tahun ini diikuti oleh kampus saya, kami adalah angkatan percobaan. Sebelumnya, program mahasiswa tingkat akhir yang dilakukan yaitu PKL (Praktek Kerja Lapangan) dimana mahasiwa di tempatkan di apotek-apotek (saya mahasiswi farmasi, btw), lebih sering dikenal sebagai magang. Namun kini PKL ditiadakan dan KKL sebagai gantinya, dengan alasan yang masuk akal menurut saya, yaitu PKL diperuntukkan bagi mahasiswa profesi apoteker.

Kemudian banyak yang bertanya, apa korelasi farmasi dengan KKN di pelosok negri? Banyak yang beranggapan, ini tidak sesuai, tidak ada garis penghubung. Paradigma KKN yang biasa kami terima -saya dengar dari teman-teman- adalah membantu warga membuat gapura, membangun fasilitas warga, dsb, atau kasarnya disebut "nukang". Sungguh tidak nyambung dengan teori obat-obatan yang kami terima!

Tidak.... Saya pikir tidak demikian. Menurut saya, kita kuliah tidak melulu untuk mendapatkan ilmu ataupun teori sesuai bidang kita. Saya justru merasa yang paling penting dari bangku kuliah adalah pengembangan pola berpikir. Memahami suatu permasalahan. Mengenal karakter manusia. Memahami diri sendiri. Dan ini luas sekali jangkauannya.

KKN menuntut kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Maka kita pun harus memahami karakter umum dari masyarakat tersebut. Pemahaman ini akan menjadi jembatan bagi kita untuk masuk dengan mulus dalam lingkungan mereka. Masyarakat yang dikunjungi mahasiswa KKN tentu memiliki ekspektasi tersendiri, apa yang akan mahasiswa ini berikan terhadap lingkungan mereka. Justru jangan sampai mereka menganggap kita pengganggu. Mungkin tujuan kita datang kesana adalah untuk melaksanakan tugas. Namun ada baiknya kita memposisikan diri sebagai orang yang ingin belajar dengan mereka, kita butuh mereka. Maka nantinya proses ini dapat berjalan menyenangkan bukan? Simbiosis mutualisme.

Saya yakin KKN akan mengajarkan kita BANYAK hal yang tidak kita dapatkan di bangku kuliah. Bisa jadi memang tidak sejalan dengan bidang ilmu yang sedang kita tekuni. Namun saya yakin ada kaitannya meskipun tidak langsung. Kita bisa belajar bersimpati, berbagi, dan juga, mandiri. Untuk yang bukan anak rantau, KKN akan menjadi pengalaman berharga, bagaimana kita bisa menjalani hidup di lingkungan orang, jauh dari orang-tua, dan yang ada hanya teman seperjuangan serta masyarakat yang tidak kita kenal. Sikap kemandirian kita akan muncul dan diuji.

Saya memang belum memahami betul detail konsep dari KKN ini, namun inilah yang bisa saya tangkap cerita yang beredar. Jadi teman-teman seperjuangan, marilah kita turunkan sedikit ego untuk melaksanakan program ini Agustus mendatang dengan hati yang ikhlas. Tidak lagi dirundung rasa tertekan dan terpaksa. Percayalah, ini akan menjadi momen tak terlupakan, pelajaran berharga, dan yang pastinya worth it.  Ini sarana bagi kita untuk bisa mengabdi, memberikan apa yang kita bisa dan mampu, kapan lagi, iya kan? Bukankah "sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama"?. Mungkin kalian tau bagaimana rasanya ketika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, sesuatu yang ternyata begitu berarti bagi orang lain. Priceless, bukan?


Ini yang saya kutip dari website Bapak Thamrin Usman (Rektor UNTAN):
KKN Kebangsaan 2014 yang akan diadakan di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia ini ditujukan sebagai salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan jiwa nasionalisme serta agenda untuk belajar budaya dan melatih kepekaan sosial mahasiswa yang terlibat nantinya.


COMING SOON : KKN Kebangsaan 2014, 18 Agustus - 18 September.
Ganbatte! :)

All about my special moments, stories, thoughts, or anything.

Your Number!

Categories

Who is "A"?

Foto saya
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hello, there! I'm a medical practitioner, hmm but not really... hahaha. It's a pleasure for me to get you here, visitors!

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

To get the latest update of me and my works

>> <<